Studi: Mengubah Gas Rumah Kaca Menjadi 'Katalis Super’ yang Bisa Mendaur Ulang Karbon Dioksida

Posted at 2017-11-22 15:00:00 on TECH SAINS by Redaksi
Ilmuwan kembangkan cara untuk ubah gas beracun dari polusi industri menjadi bahan yang berguna. (Shutterstock)

Tim peneliti dari Universitas Surrey telah mengembangkan katalis baru dan hemat biaya untuk mendaur ulang dua penyebab utama di balik perubahan iklim—karbon dioksida (CO2) dan metana (CH4).

Dalam sebuah studi yang diterbitkan oleh Applied Catalysis B: Environmental, para ilmuwan telah menjelaskan bagaimana mereka membuat katalis berbasis nikel maju yang diperkuat dengan timah dan ceria, dan menggunakannya untuk mengubah CO2 dan CH4 menjadi gas sintesis yang dapat digunakan untuk menghasilkan bahan bakar dan berbagai bahan kimia berharga.

Proyek ini merupakan bagian dari Proyek Riset Global Riset Teknik dan Ilmu Pengetahuan Alam, yang sedang mencari cara untuk mengurangi dampak pemanasan global di Amerika Latin. Penelitian ini telah membuat University of Surrey mengajukan paten untuk keluarga katalis-super baru untuk daur ulang CO2 secara kimia.

Menurut Global Carbon Project, emisi CO2 global akan meningkat pada 2017 untuk pertama kalinya dalam empat tahun—dengan produksi karbon tumbuh rata-rata tiga persen setiap tahun sejak 2006.

Sementara teknologi penangkapan karbon umum terjadi, harganya bisa mahal dan, dalam kebanyakan kasus, memerlukan kondisi yang ekstrim dan tepat agar prosesnya berhasil. Diharapkan katalis baru ini akan membantu membuat teknologi ini semakin banyak tersedia di seluruh industri, dan lebih mudah dan murah untuk diekstraksi dari atmosfer.

“Ini adalah proyek yang sangat menarik dan kami yakin telah mencapai sesuatu di sini yang dapat memberi dampak nyata pada emisi CO2,” kata Dr Tomas R. Reina dari Universitas Surrey. “Tujuan kita semua mengejar ilmuwan iklim adalah cara untuk membalikkan dampak gas berbahaya di atmosfer kita—teknologi ini, yang dapat melihat gas-gas berbahaya tersebut tidak hanya dikeluarkan namun diubah menjadi bahan bakar terbarukan untuk digunakan di negara-negara miskin adalah ‘cawan suci’ bagi ilmu iklim.”

“Pemanfaatan CO2 dengan cara ini merupakan alternatif untuk metode penangkapan karbon tradisional, yang dapat membuat dampak yang cukup besar terhadap kesehatan planet kita,” kata Profesor Harvey Arellano-Garcia, Kepala Riset di Departemen Teknik Kimia di Universitas Surrey. “Kami sekarang mencari mitra yang tepat dari industri untuk menggunakan teknologi ini dan mengubahnya menjadi proses yang mengubah dunia.”


Sumber : The Economic Times

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya