Inovasi Mahasiswa: JK Terkesan dengan Bantalan Kursi Anti-Ngantuk, Mengusulkannya untuk Para Wakil Rakyat di DPR

Posted at 2017-12-11 10:30:00 on PRESTASI by Redaksi
Anggota DPR kerap tertidur di sela rapat (via Nusantara.news)

Wakil Presiden Jusuf Kalla adalah seorang pengusaha, lama sebelum menjadi politisi terkemuka. Jadi, setelah memegang jabatan tertinggi kedua di negara itu, dia dengan keras menyuarakan urgensi lembaga pendidikan tinggi dan sekolah untuk menghasilkan lebih banyak lulusan ‘praktis’ yang sudah siap kerja.

Perhatian Wakil Presiden bukanlah hal baru bagi Indonesia, karena telah menjadi wacana nasional sejak beberapa dekade yang lalu. Pemerintah sebelumnya telah memperkenalkan program pendidikan 'link and match' untuk universitas dan sekolah. Namun, pelaksanaan program semacam itu sama sekali tidak serius, seperti yang ditunjukkan oleh kurangnya hasil nyata bagi bangsa secara keseluruhan. Misalnya, pelaku industri telah mengeluh bahwa lulusan sekolah teknologi masih kurang mumpuni untuk proyek industri.

Inilah alasan mengapa Presiden Joko 'Jokowi' Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla, setelah pengangkatan mereka pada tahun 2014, secara kuat mempromosikan partisipasi industri yang lebih aktif untuk memenuhi kebutuhan nyata di lapangan. Seperti Jusuf Kalla, Presiden juga telah terang-terangan dalam masalah ini karena dia sendiri adalah seorang pengusaha di kota asalnya, Solo, Jawa Tengah, sebelum terjun ke dunia politik.

Mengikuti gaya kepemimpinan yang ‘membumi’ khas mereka, pemerintah bahkan telah melakukan kontak khusus dengan industri terkenal yang berada di luar negeri. Tujuannya agar Indonesia bisa menghasilkan lulusan yang lebih bermanfaat.

Sebagai contoh, selama tur Eropanya pada bulan April 2016, Presiden mengunjungi kawasan industri Siemensstadt di Jerman dan mengadakan pembicaraan dengan Kanselir Angela Merkel. Dia meminta Jerman untuk secara aktif mendukung pengembangan pendidikan kejuruan di Indonesia, yang mendapat tanggapan positif dengan ditetapkannya sebuah rencana untuk mengirim guru bahasa Jerman ke negara tersebut. Apalagi Indonesia juga baru saja menandatangani perjanjian kerjasama pendidikan kejuruan dengan Singapura.

Kursi ‘Anti-Ngantuk’ dan DPR

Rupanya, kampanye tanpa henti Jokowi-Kalla telah mendorong universitas dan sekolah di Indonesia untuk berbuat lebih banyak bagi siswa mereka dengan menciptakan lingkungan yang kondusif bagi mereka untuk melakukan penelitian dan eksperimen. Upaya mereka ternyata hasilnya lebih baik.

Penemuan lebih banyak dilaporkan oleh mahasiswa teknologi dalam beberapa tahun terakhir, yang konon lebih ‘membumi’ dalam hal kebutuhan di lapangan.

Berikut adalah contoh untuk prestasi semacam itu, seperti dilansir Detik.com.

Pada hari Senin (4/12), Wakil Presiden Jusuf Kalla pertama kalinya melihat hasil inovasi unik dan menarik, yang diciptakan oleh tiga mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Brawijaya di Malang, Jawa Timur. Ketiga siswa tersebut—Wahyu Tasry Naufal, Asri Anjasari dan Prayoga Bintang Primawan—menciptakan bantalan kursi anti-ngantuk. Wapres sedang melakukan tur di arena pameran di kampus universitas sebelum berbicara di mimbar untuk menandai dimulainya seminar nasional. Diskusi dalam pertemuan tersebut berfokus pada 'downstreaming technology and start up business.'

Ketiga mahasiswa tersebut mengatakan bahwa pembuatan bantalan kursi anti-mengantuk mereka akan sangat berguna terutama untuk pengemudi saat malam atau jarak jauh. Begini cara kerjanya: kapan pun kepala pengemudi terangguk, yang merupakan indikasi rasa kantuk, bantalan kursi otomatis akan bergetar, sehingga membuat pengemudi kaget dan tetap terjaga.

Kisah mengenai bantalan kursi anti-ngantuk segera menjadi viral, yang mungkin tak heran, karena komentar Jusuf Kalla yang tak terduga dalam pidatonya di seminar tersebut. Wakil presiden tersebut mengatakan, “Saya ingin mengusulkan kepada ketua DPR bahwa anggota DPR menggunakan bantalan kursi anti-mengantuk ini.”

Wakil Presiden punya alasan untuk ucapannya. Di Indonesia, anggota DPR secara terbuka digambarkan sebagai ‘orang-orang yang selalu mengantuk.’ Televisi, surat kabar dan media lainnya sering menunjukkan saat mereka tertidur di sela-sela rapat atau pertemuan di DPR.

Boleh juga idenya ya! (Leo Jegho)


Sumber : Global Indonesian Voices

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya