Misteri Suara-suara di Kepala Kita: Apa yang Terjadi?

Posted at 2017-12-11 15:00:00 on ARTIKEL by Redaksi
Foto : Shutterstock

Jika membahas tentang otak kita, berbicara dengan diri kita sendiri di kepala kita mungkin secara mendasar sama dengan mengemukakan pendapat kita dengan suara keras, demikian hasil penelitian baru. Temuan ini mungkin memiliki implikasi penting untuk memahami mengapa orang dengan penyakit jiwa seperti skizofrenia mendengar suara-suara dalam kepala mereka.

Ilmuwan UNSW Sydney dan penulis studi utama Associate Professor Thomas Whitford mengatakan bahwa, telah lama diperkirakan bahwa halusinasi pendengaran-verbal ini muncul dari kelainan pada ucapan dalam kepala kita—dialog internal kita yang tanpa suara.

“Studi ini menyediakan alat untuk menyelidiki asumsi yang sebelumnya tidak dapat diuji ini,” kata Associate Professor Whitford, dari UNSW School of Psychology.

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa ketika kita bersiap untuk berbicara dengan suara keras, otak kita menciptakan salinan instruksi yang dikirim ke bibir, mulut dan pita suara kita. Salinan ini dikenal sebagai salinan efference.

Efference dikirim ke wilayah otak yang memproses suara untuk memprediksi suara apa yang akan didengar. Hal ini memungkinkan otak untuk membedakan antara suara yang dapat diprediksi yang telah kita hasilkan sendiri, dan suara yang tidak dapat diprediksi yang dihasilkan oleh orang lain.

“Salinan efference meredam respons otak terhadap vokalisasi yang dihasilkan sendiri, memberi sedikit sumber daya mental untuk suara ini, karena sangat mudah ditebak,” kata Associate Professor Whitford.

“Inilah mengapa kita tidak bisa menggelitik diri kita sendiri. Misalnya, ketika saya menggosok telapak kaki saya, otak saya memprediksi sensasi yang akan saya rasakan dan tidak merespon dengan kuat terhadapnya (tidak terlalu geli). Tetapi jika orang lain menggosok kaki kita secara tidak terduga, sensasi yang sama persis itu akan tidak terduga. Respons otak akan jauh lebih besar dan menciptakan perasaan geli (yang lebih kuat).”

Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal eLife ini dilakukan untuk menentukan apakah suara batin—proses mental internal—memunculkan salinan efference serupa dengan yang terkait dengan produksi kata-kata yang diucapkan.

Tim peneliti mengembangkan metode objektif untuk mengukur tindakan mental murni dari suara batin. Secara khusus, penelitian mereka atas 42 peserta yang sehat menilai sejauh mana suara yang dibayangkan (tanpa diucapkan) dapat mengganggu aktivitas otak yang dihasilkan oleh suara aktual, menggunakan electroencephalography (EEG).

Para periset menemukan bahwa, sama seperti untuk ucapan yang disuarakan, hanya membayangkan mengeluarkan suara mengurangi aktivitas otak yang terjadi saat kita secara bersamaan mendengar suara itu. Pikiran kita sudah cukup untuk mengubah cara otak kita merasakan suara. Akibatnya, ketika kita membayangkan suara, suara itu nampaknya seperti suara batin yang ‘berbicara kepada kita.’

“Dengan menyediakan cara untuk secara langsung dan tepat mengukur efek bicara batin di otak, penelitian ini membuka pintu untuk memahami bagaimana pembicaraan batin mungkin berbeda pada orang dengan penyakit psikotik seperti skizofrenia,” kata Associate Professor Whitford.

“Kita semua mendengar suara di kepala kita. Mungkin masalah muncul saat otak kita tidak dapat mengatakan bahwa kita adalah orang yang memproduksi (suara tersebut).”


Sumber : Science Daily

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya