Pekerja Rumah Tangga Indonesia Sabet Juara Pertama Kompetisi Puisi di Singapura

Posted at 2017-12-12 11:10:00 on PRESTASI by Redaksi
Deni Apriyani memegang trofi juara (Kedutaan Besar AS di Singapura)

Seorang perempuan menang untuk pertama kalinya dalam Migrant Worker Poetry Competition —"Kompetisi Puisi Pekerja Migran,” saat pekerja rumah tangga perempuan ditetapkan menjadi pemenang pertama, kedua dan ketiga dalam musim keempat kompetisi tersebut pada hari Minggu (3/12).

Kontes tahunan yang dimulai pada tahun 2014 dan sebagian besar didominasi oleh pekerja pria asal Bangladesh, mendapat kiriman aplikasi sebanyak 107 tahun ini, dalam delapan bahasa dari penyair tujuh negara, 80 persen di antaranya adalah perempuan.

Pekerja rumah tangga asal Indonesia Deni Apriyani (27), menjadi wanita pertama yang memenangkan hadiah utama senilai S$500 (sekitar Rp5 juta) dengan puisinya, Further Away, yang mengalahkan 18 kandidat terpilih lainnya di kompetisi tersebut, yang diadakan di Galeri Nasional Singapura.

Puisi itu dia tulis berdasarkan suatu pertemuan tak disengaja yang dia alami di sebuah minibus di kota asalnya, Indramayu.

Dia mengobrol dengan penumpang lain, yang menyuruhnya untuk “berhati-hati dalam menemukan suami” karena dia terjebak dalam pernikahan yang menyiksa, karena suaminya sering kasar.

“Saya tidak tahu siapa dia atau di mana dia sekarang, tapi dia mengilhami saya untuk menulis ini,” kata Apriyani yang saat ini bekerja di Singapura sebagai TKW.

Dia memilih untuk menulis dalam bahasa Inggris alih-alih Bahasa Indonesia, karena dia merasa terjemahan dari bahasa ibunya tidak akan memiliki efek yang sama seperti yang dia cari.

Dulu sekali ketika dia datang ke Singapura empat tahun yang lalu, dia bahkan tidak cukup menguasai bahasa Inggris untuk meminta makanan.

Dia mulai menulis sebagian karena kesepian. “Saya tidak punya seseorang untuk diajak bicara, jadi saya menulis cerita lucu untuk membuat saya tertawa.”

Dia suka menulis komedi, juga cerita hantu dan thriller.

Hakim, penulis drama Haresh Sharma dan penyair Chow Teck Seng dan Amanda Chong, memuji kekuatan emosional puisi Apriyani, dan juga penggunaan metaforanya, seperti misalnya “you stepped on my lungs”—“Anda menginjak paru-paru saya”—yang disampaikan secara mendalam, hingga kiasan kosmik seperti “you took my twenty stars when I wanted to see/all of them lighten my dark side”—"Anda mengambil dua puluh bintang saya ketika saya ingin melihat/semua itu menerangi sisi gelap saya.”

Menurut para juri, bahwa mereka tidak mempertimbangkan gender saat menilai, hanya pada kualitas puisi.

Chong (28) menambahkan: “Para pekerja migran yang telah menerbitkan koleksi puisi di sini kebanyakan adalah laki-laki dan akan sangat menyenangkan melihat seorang pekerja rumah tangga perempuan segera keluar dengan koleksi solo.”

Juara kedua kompetisi tersebut berasal dari Filipina, Naive L. Gascon (30), yang menulis dalam bahasa Inggris tentang berenang—yang dia cintai, namun merasa sangat kesepian ketika melakukannya—sedangkan juara ketiga diraih Fitri Diyah (25), dari Indonesia untuk puisinya, Sunday Morning In Paya Lebar, ditulis dalam bahasa Indonesia dan berdasarkan tempat nongkrong akhir pekan favoritnya.

Hadiah uang sebesar S$500 diberikan Apriyani, serta hadiah S$300 dan S$200 untuk juara kedua dan ketiga, disponsori oleh Kedutaan Besar Amerika Serikat, sementara National Gallery Singapore menyediakan tempat penyelenggaraan secara gratis.

Banyak hal lainnya pertama kali terjadi dalam kompetisi ini, seperti bergabungnya peserta dari Myanmar untuk pertama kalinya, serta digelarnya pertunjukan yang ditulis, diarahkan dan dilakukan oleh pekerja migran.

Sharma, seorang penerima Cultural Medallion, menjadi mentor bagi drama komedi 20 menit, The Other Side, di mana para pekerja migran menghabiskan enam minggu untuk mengkonseptualisasikan drama tersebut dan berlatih.

Di sana, sekelompok pekerja asing datang di hari libur mereka dan mengekspresikan talenta mereka, seperti menyanyi, melukis dan fotografi, kepada orang Singapura yang lewat.

Pengawas konstruksi imigran Zakir Hossain Khokan (39), yang turut memimpin, mengatakan: “Kami ingin menunjukkan bahwa pekerja migran tidak hanya melakukan pekerjaan kotor dan berbahaya, tapi juga memiliki kreativitas dan bakat lainnya.”


Sumber : The Straits Times

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya