CEO Talks OGIP 2018 Bahas Tantangan Pengembangan Energi Panas Bumi

Posted at 2018-02-28 14:44:00 on SEPUTAR KAMPUS by Lucia Yuriko

CEO Talks bertajuk “National Energy Reserves for Economical Potential and Technology Development” di Hotel Phoenix Yogyakarta, Sabtu (17/02/2018) tutup rangkaian OGIP 2018. Acara besutan HMTM ini menghadirkan Amien Sunaryadi (Kepala SKK Migas), Sigit Rahardjo (Direktur PTPertamina East Natuna), Irfan Zainuddin (Dirut PT Pertamina Geothermal Energy), Erwin Ariyanto (General Manager PT Scoomi Indonesia), dan Hotma Yusuf (Manager Eksplorasi PT Saka Energi Indonesia).

Sekitar 40% cadangan energi panas bumi (geothermal) dunia terletak di Indonesia. Namun potensi besar ini belum dimanfaatkan maksimal lantaran Indonesia baru menggunakan 4% dari total potensi, untuk kapasitas terpasang PLTP (Pembangkit Listrik Tenaga Panas bumi). Padahal beberapa tahun terakhir, pasar mulai melirik untuk berinvestasi di bidang ini dan pemerintah mulai menunjukkan komitmen untuk pengembangnya. Terbukti dari adanya 5 terobosan sebagai upaya percepatan pengembangan panas bumi yang diluncurkan Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan konservasi Hutan (EBTKE) tahun lalu. Lalu apakah penyebab Indonesia kurang maksimal memanfaatkan geothermal?

“Geothermal ditargetkan 7.200MW tahun 2025, apa kita mampu mengejar? Kalau dilihat dari update terakhir kok sulit. Yang dilakukan Pertamina adalah dengan mengembangkan sinergi antar perusahaan. Sekarang sedang mengembangkan 14 wilayah kerja,” ujar  Irfan Zainuddin. Selain itu dituturkan Irfan, letak panas bumi yang terpencar walau berlimpah terkadang cukup menyulitkan. Biaya produksi juga masih cukup tinggi.

Kendala lain adalah masih ditemui beberapa penolakan masyarakat daerah dimana riset itu ditemukan. “Daerah panas bumi itu relatif punya potensi sosial cukup tinggi. Contohnya Lawu yang punya banyak candi. Kita baru masuk saja sudah dicurigai,” tambah Irfan. Solusi yang dilakukan adalah perlunya edukasi ke depan. Mahasiswa perlu mengetahui hal ini agar tidak shock saat turun ke lapangan.

Ditambahkan Erwin Ariyanto, solusi yang bisa dilakukan untuk menekan cost produksi adalah dengan memperhatikan teknologi. “Jika teknologi diperhatikan maka bisa menekan harga produksi sehingga menurunkan harga jual,” tandasnya. (Lucia Yuriko)

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya