Dahsyatnya Kolaborasi dan Hebatnya Insinyur Perminyakan Indonesia

Posted at 2018-03-14 15:27:00 on OPINI by Kontributor
Illustrasi

Penulis :  Ardian Nengkoda | IATMI

Sedikit saya bercerita tentang kunjungan saya ke Petronas. Kebetulan saya baru pimpin delegasi Saudi Aramco sekitar 10 orang visit ke Petronas Malaysia 3 Hari lalu. Tidak main - main, Pimpinan paling tinggi di perusahaan dengan jumlah karyawan hampir 60.000 menugaskan saya memimpin langsung delegasi pakar untuk melihat bagaimana Petronas me-manage HP HT offshore gas well clean up or well test best practices. Dan lebih hebatnya lagi saya bertemu dengan dua insinyur Indonesia yang memimpin langsung pekerjaan itu di Petronas Malaysia. Kunjungan kami ini kemungkinan adalah pertama Kali dalam sejarah organisasi.

Saya begitu menggebu - gebu untuk menulis ini. Ada beberapa cerita yang saya pikir perlu di share sebagai lesson learned untuk komunitas IATMI Kita :

1. SUADI ARAMCO Upstream dan Petronas notabene adalah competitor each other. Betul ada kemiripan korporasi kerja keduanya adalah sebagai NOC alias perusahaan minyak milik negara. Namun sejauh ini tidaak da relationship business di Upstream sama sekali. Kecuali recent RAPID refinery projects antara kedua perusahaan Ini.  Hanya perlu sekitar 14 Hari saja untuk mengurus ijin sana sini agar suatu korporat seperti ARAMCO dapat berkunjung ke Petronas Malaysia.

2. Tanpa birokrasi yang panjang dan rumit kunjungan dapat terlaksana. Kok bisa? Ternyata semangat itu diperlihatkan oleh Petronas. Ibarat tamu mengetuk pintu, bisa saja Petronas tidak membuka kan pintu rumahnya. Dalam kunjungan 2 Hari yang lalu saya baru tahu bahwa semangat “Collaboration” itu menjadi KPI Korporasi mereka.

Mengapa penting kolaborasi yang kadang cuma sekedar lipstick saja Tanpa Ada implementasi? Natalie Nixon (2014) menyebutkan setidak nya Ada 5 manfaat dahsyat dari kolaborasi. Salah satunya learn, learn, and learn some more! Ajaib, saya mengamini ini dari workshop bersama dengan Petronas saya yakin bahwa ke dua perusahaan saling belajar dari knowledge sharing yang bermanfaat ini. Semangat kolaborasi meng KO kan birokrasi!

3. Buat beberapa Kita, kebanyakan masih alergi dengan kolaborasi. Takut berkepanjangan bahwa dengan sharing data atau knowledge maka ilmu besar akan hilang. Tidak semangat untuk duduk bersama karena percaya dengan comfort zone bahwa ialah satu satunya yang paling benar. Kolaborasi dipikir hanya merugi dan membuang waktu tanpa faedah sama sekali.

S. Janus (2016) dari World Bank Bahkan sampai membuat handbook berisi 200 halaman tentang manfaat knowledge sharing bagi suatu organisasi. Sekarang zaman-nya digital, kolaborasi bahkan bisa dilakukan secara virtual ataupun remote.

4. Saya bertemu dengan dua insinyur Indonesia hebat dalam kunjungan khusus Ini.  Masih muda Juga sekitar 35 tahun saja umurnya. Namun berpengalaman super dan terlibat dalam team Mega proyek billion dollar Migas lepas laut Malaysia. Namanya Orient Samuel dan Adhi Naharindra.

Mereka berkecimpung langsung dalam pengeboran dengan resiko tinggi, high pressure dan high temperature serta pengujian sumur dan clean up. Tanpa mereka berdua, hampir pasti kunjungan SAUDI ARAMCO tidak dapat terlaksana. Dari cerita mereka ini, pengalaman awal karir migas mereka dimulai dari Indonesia.

Mereka membangun karir migas lewat terjun lapangan langsung, berkotor - kotor bahkan keliling dunia terlibat dalam proyek kerja lapangan sebelum akhirnya ber kantor di Petronas Twin Tower. Dua insinyur indonesia ini di percaya oleh pimpinan Petronas untuk memberikan presentasi teknikal kepada 10 delegasi kami.

Kalimat sederhananya mereka berdualah yang mengajari kami. Cara mereka memimpin workshop dan mengajar sangat elok sekali. Tidak ada data yang disembunyikan, yang ada adalah lesson learned demi kebaikan industry migas dan menghindari resiko bisnis serta resiko kecelakaan. Cara pandang mereka jauh ke depan. Itulah semangat kolaborasi sesungguhnya, Saya pun perhatikan tidak banyak karyawan teknikal lokal di departmen pengeboran ini.

Beberapa mereka di dominasi oleh tenaga asing. Saya tahu bahkan masih banyak lagi tenaga professional indonesia baik perminyakan, G&G dan Engineering di negara Malaysia. Indonesia dahsyat! Dengan pengalaman Indonesia lebih dari 100 tahun sudah.

Lalu kira - kira apa yang salah dengan Migas Indonesia?



Salam kangen buat Ibu pertiwi

Ardian Nengkoda

Editor : Yudi Kobo

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya