Pemuda Kunci Kemajuan Desa

Posted at 2018-05-25 15:50:00 on ARTIKEL by Lucia Yuriko

Peringatan Milad IMTA (Ikatan Mahasiswa Tanjung Balai) Jogja ke-18 lalu, dirayakan dengan suasana berbeda, yaitu seminar dengan tema “Pemuda Sebagai Orientasi Pembangunan Daerah”. Seminar tersebut diisi oleh dosen dan alumni UPNVY. Acara yang digelar Sabtu, (12/05/2018) di Fave Hotel Kusumanegera tersebut dihadiri puluhan anggota IMTA dari berbagai usia, yang pernah mengenyam pendidikan di Kota Pelajar ini.

Pembicara terdiri dari Dr. Ir. Agus Surata, M.P. (Dosen UPNVY & Penulis), Anang Immanudin S.P (Alumni UPNVY & Penggiat Desa Wisata), Christiyati Ariani, M.Hum (Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya DIY), dan Dudi Nugroho S.T., M.T (Kementrian Desa dan Transmigrasi). Acara ini digelar untuk memotivasi pemuda agar giat berkontribusi di daerah asalnya selepas kuliah. “Ini cara mengisi kemerdekaan, dengan mengisi ruang kosong di kampung kita supaya lebih maju. Pembangunan fisik bukan tugas kita, tugas kita ialah membangun moral anak muda. Harus kita pelajari tradisi orang Jogja ini yang gotong royong,” ujar Yaseer Arafat Ritonga, Dewan Penasehat IMTA Jogja dalam pembukaannya.

Pemuda adalah tiang penggerak perubahan. Bagi pemuda rantau, diharapkan selepas menempuh pendidikan dapat kembali dan membangun kampung halaman. Dituturkan Agus Surata, hal yang paling penting sebelum bergerak membangun adalah memiliki visi misi yang jelas. “Harus mandiri juga menciptakan pekerjaan bagi diri sendiri dan orang lain. Harus peka melihat apa yang dibutuhkan masyarakat, pemerintah, dan melihat potensi alam dan budayanya,” ujar penggagas mata kuliah Widya Mwat Yasa ini. Terpenting, pemuda harus mampu memberi solusi bukan malah menjadi trouble maker.

Hal senada juga dituturkan Anang, khususnya Ia mengajak agar pemuda berani menyuarakan pendapatnya dan melakukan gebrakan baru. Sebagai contoh, Anang pernah menjadi Presma BEM 2002, pimpinan gerakan pengungsi Rohingya di Borobudur, pengurus PAN Jateng, hingga penggerak organisasi anak jalanan. Itu semua dilakukannya semasa kuliah antara tahun 1999-2002. Walau sibuk beraktivitas, nyatanya Anang dapat lulus cumlaude dan meraih Karya Cendekia. “Kampung, kampus, harus jalan semua. Kalau hanya lancar di kampus, saat terjun di masyarakat bingung. Belajar dapat dari siapapun dimanapun. Masalah keberanian sangat penting terutama berani berinovasi dan berinspirasi,” ujarnya yang kini fokus mengembangkan Kampung Wisata Ndeso di Muntilan, Magelang.

Terakhir Anang memberikan kunci sukses menjalani kuliah. Pintar akademik, baik moral, benar agama, dan berani suarakan pendapat. Melihat banyakan mahasiswa Tanjung Balai, Sumatra, yang merantau, diharapkan Tanjung Balai akan segera menunjukkan wajah barunya.

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya