Dewasalah melihat Masalah dari sudut pandang berbeda Netizen UPN

Posted at 2018-06-21 18:04:00 on SEPUTAR KAMPUS by Kontributor

Penulis : Fahmi Tamimi

Akhir - akhir ini timeline mahasiswa UPN diramaikan oleh tulisan tulisan viral saling lempar kritik. Merasa argumenya lah yang terhebat.

Jika menurut kalian lempar kritik ini sebuah permusuhan saya tidak sepakat karena inilah definisi "Demokrasi yang sehat".

Ada partai pemenang kursi eksekutif dan ada juga oposisi yang berfungsi menentang kebijakan untuk mengontrol dan mengawasi. Semua memiliki perannya masing - masing.

Kalo dari sudut pandang saya seorang mahasiswa yang harusnya sudah lewat masa studi di UPN. saya tau betul mana jurusan yang awalnya bersebrangan dalam berpolitik hingga menjadi sekutu begitupun sebaliknya. begitulah politik, ini murni hanya karena perbedaan pandangan melihat permasalahan.

Kalo tarik sejarah (berasa banget tua aing) mahasiswa UPN sulit menyampaikan kritik langsung, bukan karena tidak berani tapi tidak tahu caranya. lewat media sosial dulu bulom ada platformnya, mau datengin sekre BEM ga tau yang mana lokasinya (dulu ga ada neonbox),malah dikira mahasiswa awam dikira toilet.

Akhirnya mahasiswa yang oposisi memilih bergosip lalu menyebar doktrin tidak sehat ke mahasiswa lain yang ga tau apa - apa. Alhasil eksekutif terpilih tidak tau apa yang salah pada kabinetnya ditambah mahasiswa netral punya stigma buruk pada eksekutifnya. Inilah menurut saya inilah Politik tidak sehat.

Trus gimana etika menyampaikan kritik yang baik seperti apa?
Menurut saya pribadi

1. Kritik disampaikan secara langsung atau terbuka
kenapa harus langsung? menjauhi multitafsir dan keambiguan. terkadang fakta yang ada dilapangan sering ditambah atau dikurangi oleh orang ketiga. (ini yang sering terjadi di media Indonesia).
Jika ada keterbatasan jarak atau beberapa alasan lain sehingga tidak bisa disampaikan secara langsung,tidak masalah! sampaikan secara terbuka melalui medsos, koran/majalah kampus, radio kampus.

2. Menuliskan sumber Pengkritik
boleh lembaga/perorangan yang dapat dihubungi. sang "Kritikus" pun harus dapat bertanggung jawab terhadap apa yang ditulis/sampaikan.

3. Kritik disampaikan jelas
Ada urgensi masalah yang memang perlu diselesaikan. bukan cari cari celah yang sebetulnya tidak ada.

4. Dapat memberikan bukti terhadap claim yang kita sampaikan.

Perlukah kritikus menyertai solusi?
Saya rasa jawabannya tidak.

Disini peran instansi terkait dengan jabatannya, malah dituntut mampu memberi solusi terhadap masalah yang ada. Yang penting sesuai alur dan tanggung jawabnya. Organ eksekutif punya bargaining position di masing - masing birokrasinya.

BEM KM memiliki peran memperjuangkan aspirasi mahasiswanya ke rektorat
BEM Fakultas memperjuangkan aspirasi mahasiswanya ke dekanat
HMPS memperjuangkan aspirasi mahasiswanya ke jurusan
Mengingat pula kapasitas mahasiswa biasa berbeda - beda.

Berkaca pada AD/ART, ketika pejabat eksekutif mahasiswa tidak mampu menyelesaikan masalah mahasiswanya, dapat berkoordinasi dengan Legislatif/DPM ataupun dapat meminta nasihat Demisioner.

Ketika usaha usaha tadi tidak kunjung menemukan hasil. Pemberi kritik terhadap eksekutif dapat melaporkan (disertai bukti) untuk menindak lanjuti eksekutifnya kepada DPM/legislatif.

DPM memiliki jalur aspirasi untuk mahasiswa menyampaikan aspirasinya yang sudah di tanda tangani jauh sebelum kongres oleh ketua BEM dan ketua DPM maka seharusnya itu sudah berfungsi.

Selain itu DPM memiliki 3 fungsi Hak (interpelasi) untuk meminta keterangan, Hak kontrol dan Hak angket, misalkan nanti kalo lapor ke DPM terus kita menyampaikan aspirasi ketidakpuasan, setelah itu nnti DPM menjalankan fungsi kontrol dan interpelasinya, nah jika dua fungsi itu tidak berjalan baru melakukan DPM turunkan angket dari DPM ke seluruh mahasiswa. setelah itu desak DPM menjatuhkan sanksi seperti pembekuan satu periode kepada eksekutif.

Keluarga Mahasiswa merupakan organ yang sudah terstruktur, tinggal bagaimana kita menerapkan dalam berlembaga. jika dirasa ada yang kurang ya perbaiki, ada benturan seperti kritik ya dihadapi bukan update instastory

Kalian yang sudah menjabat sekarang harus memiliki pemikiran yang terbuka untuk menerima kritik dan saran. Kalau merasa tidak mampu mencari solusi alangkah baiknya kalian bertanya atau perkaya diri dengan referensi, bukan cuma jadi mahasiswa yang ngakunya elit tapi ga mau introspeksi dan upgrade diri. Mending kalo kritikannya di baca dan ditonton, mungkin ga dilihat terus buat claim seolah olah benar tidak ada solusi.

Kalo kalian malah menyalahkan orang yang menyampaikan kritik berarti kalian belum dewasa dalam berorganisasi alias masih bayi. Bagi saya kalian hanya mahasiswa yang punya cacat logika.

Semoga seluruh netizen awam politik yang membaca postingan ini, dewasa melihat kritik sana sini. Tak perlu membenci politik, sejatinya jika kita bukan jadi pelaku maka kita bakal jadi korban. Jangan anggap ada perseteruan apalagi permusuhan.

Kita mahasiswa ada pada kubu yang sama. Untuk melawan politik ketidakadilan birokrasi, buang semua doktrin negatif terhadap sesama mahasiswa, turunkan egois demi kesejahteraan Mahasiswa. tak perlu berseteru lagi mari kita ngopi.

nb : gambar pendukung adalah beberapa contoh kecacatan logika seseorang ketika berargumen,
contoh kritik yang ga kongkrit & beberapa uraian penjelasan oposisi.

link di bawah merupakan video AD ART dan beberapa contoh kritik yang sudah disertai solusi

https://youtu.be/8KwIQ0SSIWM

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Fahmi Tamimi El M

semoga bermanfaat tulisannya

2018-07-30 05:03:42
Baca Lainnya