Belajar Menjadi Videografer Muda Bersama BEM FEB

Posted at 2018-06-23 08:00:00 on SEPUTAR KAMPUS by Lucia Yuriko

Industri kreatif yang semakin menjamur, membuat lapangan pekerjaan juga bertumbuhan. Salah satu trend di kalangan anak muda saat ini adalah profesi videografer dan fotografer. Bermodalkan seperangkat kamera dan kreativitas, profesi ini ternyata menjanjikan. BEM FEB menggelar “Workshop Videography”, hari Minggu (20/05/2018) di Ruang Seminar FEB. Acara ini mendatangkan Ahmad Mizani, profesional video maker, dan Jeje Resa, pengelola akun @javafoodie

Bagi Ahmad Mizani, ada 3 hal penting yang harus dikuasai videografer yaitu equipment, skill, dan taste. Ketiga hal ini harus dapat dikombinasikan sedemikian rupa agar menghasilkan produk memuaskan dan menjual. Skill meliputi kreatif, manajemen produksi, pengoperasian alat, shooting, video editing, dan marketing. “Kreatif tidak harus dalam pengolahan ide dan produksi. Tapi bagaimana ketika ketemu konsumen kita mengerti apa yang dia inginkan, dan tau stylenya seperti apa,” ujarnya yang sempat viral usai menggarap video “Avengers Goes to Jogja”, hingga diundang ke Hitam Putih Trans7.

Cerita unik datang dari Jeje Resa, yang justru telah “iseng” menjadi videografer sejak SMA. Pemilik nama asli Angelo Jesua Resa Putra ini mengawali karirnya dengan bergabung di komunitas Balikpapan Foodies, selepas menjalani Student Exchange ke Amerika. “Waktu pulang exchange merasa kurang update. Nggak tau tempat nongkrong kekinian. Akhirnya gabung komunitas itu dan ditawari jadi videografer. Ilmu masih 0”, ujarnya yang kini ikut mengelola akun @javafoodie dengan follower berjumlah 152.000.

Mahasiswa manajemen angkatan 2016 ini aktif di pembuatan konten untuk TVC dan brand lokal. Beberapa yang pernah menjalin kerjasama dengannya antara lain Dian Pelangi, Sheryl Sheinafia, hingga Filosifi Kopi. Salah satu tips dari Jeje adalah “know yourself”. Yaitu mengetahui potensi diri yang terbaik di bidang apa. Pertama adalah menentukan apakah akan fokus di video atau cinema. Kemudian spesialis, seperti produk, kuliner, fashion, weeding, dan lain-lain. “Awalnya di coba satu-satu nggak papa. Tapi jangan di profesionalkan atau diuangkan. Kemudian baru akan ketemu spesialisnya dimana,” ujar mahasiswa kelahiran Balikpapan ini.

Tips terakhir dari Jeje adalah menentukan lingkaran koneksi, “be in the right circle”. Proporsi idealnya adalah 100/3. Yaitu 33% dibawah kemampuan kita, untuk membangun rasa percaya diri. 33% sebaya, untuk belajar bersama dan bereksperimen, dan 33% yang 10x lebih hebat dari kita, untuk diserap ilmunya.

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya