3 Anak Muda : Jualan Ayam Saus Telur Asin Beromzet Miliaran

Posted at 2018-08-08 18:16:23 on ARTIKEL by Redaksi
@eatlahjkt

Berawal dari kerinduan akan makanan Indonesia saat tinggal di Singapura. Tiga anak muda Charina Prinandita, Riesky Vernandes, dan Michael Veryanto mulai membuat makanan bersaus telur asin yang diberi nama Eatlah.

"Dulu waktu di Singapura kami kangen makanan rumahan. Nah di sana ada makanan nasi, telur dan ayam bersaus telur asin. Itu kan mirip makanan Indonesia sebenarnya. Dari situlah kita mulai terinspirasi membuat Eatlah," kata Charina saat ditemui detikFinance di Gerai Eatlah Plaza Indonesia, Jakarta, Senin (6/8/2018).

Pendiri Eatlah (kiri ke kanan) Riesky Vernandes, Co-Founder Chief of Operation, Charina Prinandita, Co-Founder Chief of Marketing, dan Michael Chrisyanto, Co-Founder Chief of Branding & Design.

Kemudian pada 2016 Charina cs mulai membuat makanan dengan menu yang sama di Indonesia. Untuk membangun Eatlah, Charina dan teman-temannya menggelontorkan modal awal sebesar Rp 45 juta. Modal ini mereka dapatkan dari pinjaman orang tua dan bisa mereka kembalikan setelah bisnis berjalan tak hampir satu tahun.

Awalnya mereka berjualan di pasar Pantai Indah Kapuk (PIK) atau pasar makanan yang buka sejak jam 5 sore sampai jam 12 malam. Saat itu, ia mampu memproduksi 50 kotak nasi ayam bersaus telur asin.

Saat ini 2018 Eatlah sudah memiliki 14 gerai yang tersebar di Jabodetabek, Bandung dan Semarang. Charina menyebut rata-rata satu gerai mampu memproduksi dan menjual kurang lebih 300 kotak. Ini artinya, satu gerai dalam satu bulan bisa menjual 9.000 kotak Eatlah.

Jadi secara keseluruhan untuk 14 gerai Eatlah bisa menjual 126 ribu kotak dengan harga satu kotak nasi, salted egg chicken plus telur mata sapi dibanderol Rp 35.000.

"Untuk percobaan kami butuh waktu 7 bulan sampai rasanya benar-benar bisa diterima oleh lidah orang Indonesia. Kami tes sana sini, sampai benar-benar dapat rasa yang cocok," jelas dia.

Untuk proses pemasaran, Eatlah memaksimalkan teknologi. Jadi, mereka bekerja sama dengan layanan pesan antar makanan dari layanan ojek online. Dia menyebutkan, pemilihan pemasaran via ojek online dilakukan untuk menekan biaya-biaya yang dikeluarkan setiap bulannya. Karena dengan layanan tersebut, Eatlah hanya membutuhkan kitchen atau dapur untuk memasak dan tidak membutuhkan tempat yang besar.

"Dulu layanan pakai Go Food itu belum sebesar sekarang. Kami juga dikasih tahu sama abang ojeknya, kalau makanan ini banyak yang pesan tapi dari Jakarta Selatan. Waktu itu itu kami masih di PIK dan nggak ada yang mau ambil, ya itu lah yang kami pelajari," imbuh dia.

Dia menceritakan saat ini 60% penjualan dilakukan melalui ojek online. Sisanya para pembeli datang langsung ke gerai yang biasanya di mall. Charina menambahkan, untuk penjualan di mall biasanya ramai saat makan siang dan makan malam.


Antrian Ojek Online menanti Pesanan

Memang, Eatlah di mall membidik pasar generasi millenial yang bekerja dekat dengan gerai. Sedangkan untuk gerai di ruko hanya disiapkan untuk pembeli yang take away, ini juga untuk memudahkan ojek online saat membelikan pesanan.

Dia menyebut, jika di mall biasanya driver ojek online tak mau menerima pesanan karena ada biaya parkir dan jalan yang terlalu jauh untuk masuk ke mall.

Selain mempelajari lokasi, Charina juga mempelajari soal pendapatan pekerja di suatu wilayah. Misalnya untuk di Semarang, ia membanderol satu kotak makanan seharga Rp 30.000 lebih murah dibandingkan harga di Jakarta. Hal ini dilakukan karena ia mempelajari kebiasaan masyarakat di sana dan upah minimum regional (UMR) di sebuah kota.

Charina mengaku saat ini belum tertarik untuk membuka kemitraan. Pasalnya ia masih ingin menjaga kualitas rasa makanan yang dijualnya. Memang, menurut dia jika kemitraan pertumbuhan usaha bisa lebih cepat karena akan mendapatkan fee franchise dan bisa lebih banyak gerai.

"Kalau franchise kan kita lepas kendali, bisa saja mereka mengurangi porsi karena mau berhemat dan bumbunya bisa saja berbeda dari gerai satu dan gerai lainnya. Kita nggak mau itu kita mau rasanya sama di semua tempat karena itu bumbunya kami kirim dari pusat, karyawannya juga kami training dulu," jelas dia.
Dalam satu hari, setiap outlet bisa menghabiskan 200-300 butir telur bebek asin dan telur ayam.


Dia menyebutkan untuk satu kotak makanan dibutuhkan 110-120 gram daging ayam. Namun tergantung kebutuhan gerai, jika satu hari gerai menjual 200 kotak maka dibutuhkan 25 - 35 kilogram daging ayam.
Untuk menghadapi persaingan, Eatlah selalu membranding sebagai makanan kasual alias bukan makanan tren atau musiman saja. Saat ini kebanyakan orang mengira saus telur asin hanya tren sesaat, padahal Eatlah tidak dan ingin terus menjadi makanan yang tak lekang tren.

"Kita mau seperti makanan jepang cepat saji, bisa diterima di mana saja. Menu utamanya kan daging sama nasi. Kalau kami nasi, ayam dan telur makanan biasa kan sebenarnya telur asin itu. Tapi juga ada selingannya biar nggak itu-itu aja, kita juga tetap jaga supaya customer balik lagi," jelas dia.

Charina menganggap persaingan bukanlah penghalang. Justru sebagai tempat 'numpang tenar' karena setiap ada pesaing baru yang muncul pembeli justru mengingat Eatlah sebagai pelopor salted egg chicken. Lalu dengan banyaknya penjual saus telur asin maka telur asin bisa lebih tenar dan Eatlah juga lebih terkenal.
"Jadi makin banyak makin baik. Orang juga suka bandingkan kalau Eatlah kayak gini rasanya, kalau itu gini rasanya. Itu justru menguntungkan sekali, jadi kalau ingat telur asin mereka ingat Eatlah dan ini bagus," tambah dia.


Sumber : Finance.detik.com

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya