Tugas Seorang Rigger

Posted at 2018-09-21 18:56:15 on ARTIKEL by Redaksi
Foto : akualita.com
Tagar

Penggunaan alat berat pesawat angkat (crane) tidak lepas kaitannya dengan peran seorang rigger. Apa itu Rigger? Juru ikat (rigger) adalah tenaga kerja yang mempunyai kemampuan dan memiliki keterampilan khusus dalam melakukan pengikatan barang serta membantu kelancaran pengoperasian peralatan angkat. Alat bantu yang digunakan adalah sling baik sling serat alam, sling serat sintetik, sling rantai maupun sling serat baja (wire rope).

Tugas Seorang Rigger pada alat berat crane memilik risiko yang tinggi. Kesalahan dalam kegiatan rigging dapat menyebabkan kecelakaan kerja yang berakibat kerusakan alat dan melukai pekerja bahkan dapat mengakibatkan kematian. Dalam industri, hal tersebut tentu sangat merugikan secara materi terlebih pada industri minyak bumi dan gas (migas). Kecelakaan kerja dapat dihindari jika para pekerja menerapkan K3 dalam bekerja dan memiliki kerjasama yang baik. Hindari bekerja sendirian di lapangan karena dapat meningkatkan risiko kecelakaan kerja.

Menurut Peraturan Menteri  PER.09/MEN/VII/2010 , Juru ikat (rigger) sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (2) harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:

  1. sekurang-kurangnya berpendidikan SLTP/sederajat;
  2. berpengalaman sekurang-kurangnya 1 (satu) tahun di bidangnya;
  3. berbadan sehat menurut keterangan dokter;
  4. umur sekurang-kurangnya 19 tahun; dan
  5. memiliki Lisensi K3 dan buku kerja.

Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) telah menetapkan standar dalam mempersiapkan pengikatan beban (IMG PA02.001.01). Dalam mempersiapkan beban hal utama yang harus diperhatikan adalah beban yang diangkat. Indentifikasikan materi, kondisi dan berat beban yang diangkat. Hal tersebut dilakukan untuk menentukan sling, hook, dan shackle yang digunakan serta untuk menentukan teknik ikatan yang digunakan. Sling berfungsi untuk menahan gaya tarik dan memegang beban yang diangkat. Sling yang digunakan dalam pengangkatan beban harus memperhatikan breaking load, safe  working load (SWL), rule of thumb, dan factor of safety.

Industri migas menggunakan wire rope sling dalam penggunaan alat berat crane. Kelebihan wire rope adalah kekuatannya besar, beratnya minimum, dan fleksibel. Selain itu, sling wire rope tidak cepat aus seperti sling serat alam dan sling serat sintetis dan tidak terdapat sambungan yang lemah seperti rantai. Wire rope menggunakan rangkaian paralel dalam menahan beban sehingga masih dapat digunakan secara aman apabila satu atau beberapa wire putus. Sebelum digunakan jangan lupa untuk menghitung beban maksimum yang aman (SWL) dan periksa kembali kondisi wire rope.

 

gambar : Wire Rope Sling

 

4404-stainless-steel-wire-rope-304-6x19-class-1-lineal-foot_1_640

Gambar : Wire Rope

Selain sling, alat bantu lain yang tidak kalah penting adalah hook dan sachkle. Hook dan sackhle adalah alat bantu pengait yang menghubungkan sling dengan beban. Perbedaan dua pengait ini adalah alat pengunci bebannya. Shackle memiliki baut pengunci beban sehingga jauh lebih aman dibanding dengan hook

Gambar : Hook

 

shackle

Gambar : Shackle

Selain itu, seorang juru ikat (rigger) berkewajiban untuk:

  1. melakukan pemilihan alat bantu angkat sesuai dengan kapasitas beban kerja aman;
  2. melakukan pengecekan terhadap kondisi pengikatan aman dan alat bantu angkat yang digunakan;
  3. melakukan perawatan alat bantu angkat;
  4. mematuhi peraturan dan melakukan tindakan pengamanan yang telah ditetapkan; dan
  5. mengisi buku kerja dan membuat laporan harian sesuai dengan pekerjaan yang telah dilakukan

 

Sumber: PER.09/MEN/VII/2010, Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI)


Sumber : oilandgasmanagement.net

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya