Resa Boenard, Si ‘Putri Bantar Gebang’ yang Bertekad Mengubah Nasib Anak-anak di Pembuangan Sampah

Posted at 2017-04-13 09:00:00 on OPINI by Redaksi
Dok. Resa Boenard
Tagar

Siang itu mendung, dan sisa-sisa hujan masih nampak di antara gunung-gunung sampah di TPA Bantar Gebang, membentuk lumpur lengket di jalanan yang biasa dilalui truk sampah. Sudah belasan tahun kawasan itu “dipaksa” menjadi solusi masalah sampah Jakarta, yang tiap tahunnya nampak semakin kompleks saja. Masalah sampah menurunkan masalah lain yang tak kalah rumit, seperti masalah kemiskinan dan pendidikan yang buruk.

Bantar Gebang tak hanya menjadi “rumah” dari 8.000 ton sampah yang disumbang oleh Jakarta, tapi juga merupakan rumah bagi lebih dari 3.000 anak-anak yang orangtuanya mencari penghidupan dengan mengais di gunung-gunung sampah di sana. Pergilah ke Bantar Gebang, yang mungkin baunya saja sudah bisa membuat kalian merasa ingin segera pergi dari sana. Namun anak-anak yang hidup di sana, mereka tak bisa pergi.

Mungkin teman-teman tak tahu, dan tak bisa membayangkan, bagaimana rasanya hidup dan tumbuh besar di kawasan pembuangan sampah. Namun Resa Boenard tahu betul bagaimana rasanya.

Resa tumbuh besar di Bantang Gebang, sebuah lingkungan dengan situasi yang benar-benar tak biasa. Setiap harinya, dia bangun dan menatap bukit sampah setinggi lima meter lebih di depan rumahnya. Sebagai anak-anak, Resa tak luput dari bully karena berasal dari tempat pembuangan sampah.

“Hidup seperti itu benar-benar tidak mudah. Setiap kali saya pergi sekolah dengan lumpur dari tempat pembuangan sampah menempel di sepatu, baunya mirip pup kucing. Anak-anak bisa agak kejam kalau bicara. Mereka biasa mengatakan ‘kamu bau sekali!’ tanpa basa-basi,” kenang Resa. “Tapi ‘kan saya orangnya cuek, jadi nggak begitu dimasukkan ke hati. Tapi kalau anak-anak lain, bisa beda. Banyak dari mereka yang enggan pergi sekolah karena di-bully, dan akhirnya putus sekolah.”

Sudah bukan rahasia umum bahwa anak-anak yang tinggal di tempat pembuangan sampah tidak banyak yang memiliki prospek cerah. Tempat semacam itu memang tak punya banyak hal untuk ditawarkan.

“Kami yang tinggal di Bantar Gebang sudah biasa direndahkan, dipandang remeh karena tinggal di pembuangan sampah,” katanya.

Resa sangat tahu itu, karena dia pernah berada di situasi tersebut sebelumnya. Alumni Universitas Gunadarma ini telah melihat bagaimana anak-anak putus sekolah, berakhir menjadi pemulung, dan akhirnya menikah di usia 14 tahun, dan bercerai di usia 15 hanya karena hal kecil seperti Facebook. Dia ingin mengubahnya.

“Sejak saya usia 12 tahun, papa menikah lagi, meninggalkan saya dan mama. Saat itu banyak keluarga yang bilang, saya nggak akan bisa tamat sekolah, karena papa sudah nikah lagi. Banyak yang bilang saya nggak akan berhasil, karena miskin dan tinggal di Bantar Gebang yang kelihatannya nggak punya masa depan,” kenang Resa.

“Selepas SD, saya masuk pesantren di Padang. Setelah menyelesaikan SMA di sana tahun 2004 dan kembali ke Bantar Gebang, mama tidak punya uang untuk saya melanjutkan kuliah. Daripada saya nganggur, saat itu saya mulai mengumpulkan anak-anak dan mengajar apa saja yang nggak diajarkan di sekolah. Itulah kali pertama saya menjadi aktivis,” ungkapnya.

Setelah berkenalan dengan aktivis-aktivis lainnya, mereka mendorong Resa untuk kuliah agar bisa lebih diperhitungkan sebagai aktivis.

“Saya ingat teman-teman aktivis bilang, ‘Resa, kalau kamu mau jadi aktivis yang diperhitungkan, kamu harus kuliah.’ Saat itu saya berpikir, nggak mungkin saya kuliah, uang saja nggak ada. Tapi mereka serius ketika bilang akan membantu. Akhirnya kami berhasil mendapat uang dari penyumbang, dan saya pun bisa kuliah. Saat itu saya juga akhirnya punya orang tua asuh, sepasang suami istri asal Inggris yang datang ke Bantar gebang. Mereka setuju membiayai kuliah saya sampai selesai, setelah mengetahui bahwa saya adalah satu-satunya gadis di Bantar Gebang yang bisa berbahasa Inggris dengan cukup lancar.”

Resa akhirnya berhasi menyelesaikan kuliah dan mendapat gelar sarjana di bidang Teknik Informatika. Selepas kuliah, ia kembali aktif sebagai aktivis. Di tahun 2014, bersama kawan sesama aktivis John Devlin, Resa mendirikan The Kingdom of BGBJ, sebuah komunitas aktivis dan relawan yang fokusnya membimbing dan membina anak-anak usia sekolah di Bantar Gebang.

“BGBJ (dibaca biji-biji) kependekan dari ‘biji-biji Bantar Gebang.’ Kami menganggap anak-anak sebagai biji, benih yang bisa tumbuh subur dengan cinta dan perawatan yang tepat hingga menjadi pohon yang kuat. Kami memfasilitasi anak-anak di sini dengan kursus tambahan, berbagai workshop dan laboratorium sains, perpustakaan kecil, lab komputer, dan sanitasi yang baik. Mereka bebas belajar apa yang mereka mau,” kata Resa.

Setiap hari Minggu, Resa, John, dan para relawan lainnya membuka kelas Bahasa Inggris, kelas motivasi dan bimbingan psikologi, kelas menari, bermusik, sains, hingga berbagai kegiatan seperti kerajinan tangan, berkebun, membuat furnitur, atau menggambar. Mereka juga membuat produk balsam anti nyamuk untuk dijual dan dananya digunakan untuk operasional BGBJ.

Dalam menjalankan operasional BGBJ, Resa dan John mendapat bantuan dari relawan yang berasal dari berbagai negara. Sejak satu setengah tahun lalu, sudah ada ratusan relawan yang datang, membantu mereka mengajar dan bekerja bersama anak-anak.

“Di awal, kami sempat kesulitan mencari relawan. Nggak ada yang datang,” kata Resa. “Setelah John bergabung, kita bikin konsep baru, kita buatkan asrama supaya mereka bisa menginap di sini. Akhirnya mereka mulai berdatangan. Kebanyakan orang asing yang sedang kerja atau liburan di Indonesia.”

“Yang luar biasa dari para relawan ini adalah, mereka sama sekali tidak dibayar, sepeser pun. Malahan mereka yang harus membayar untuk makan siang yang kita sediakan. Tapi mereka senang, bisa dapat pengalaman di sini, berinteraksi dengan anak-anak. Rata-rata mereka senang juga dengan makanan Indonesia. Per tahun ini sudah ada 150 relawan yang pernah datang. Mereka berasal dari berbagai negara, seperti Denmark, Meksiko, Jerman, Inggris, Australia, Belanda, Perancis, Amerika. Dari Indonesia juga ada, sekitar 1o orang,” tuturnya.

Namun niat baik tak selalu berjalan mulus. Di antara beberapa tantangan yang harus dihadapi Resa dan BGBJ adalah penolakan dari beberapa pihak di komunitas Bantar Gebang itu sendiri. Banyak orang tua yang melarang anak-anaknya datang ke BGBJ, karena mereka pikir Resa mengajarkan nilai-nilai yang tak sesuai dengan ajaran agama.

“Kami memang sengaja tidak memasukkan agama dalam agenda BGBJ, karena kami ingin semua anak, dari suku dan agama apapun, bisa bebas datang ke sini. Saya biasa bilang ke anak-anak, ‘kalau adik-adik mau tahu tentang agama, kakak bisa bantu. Tapi kalian harus pergi ke rumah kakak,’” katanya. “Saya berasal dari Padang, yang sejak kecil dididik secara agamis dengan ketat. Selain itu saya sekolah di pesantren di Padang selama enam tahun. Jadi ‘nggak mungkin saja mengajari anak-anak sesuatu yang bertentangan dengan agama.”

Resa memiliki mimpi, suatu hari anak-anak didiknya bisa kuliah, mendapat gelar dan memperoleh penghidupan dan kehidupan yang lebih baik. Nanti jika mereka punya anak, mereka pun bisa memberi penghidupan yang lebih baik kepada anak-anak mereka.

“Segala hal yang terjadi kepada saya, tidak terpikirkan sebelumnya. Mama dan saya dulu hampir nggak punya apa-apa. Namun di sinilah saya sekarang, menjadi aktivis, membuat perubahan, bekerja bersama berbagai orang dari berbagai negara. Rasanya nggak percaya, saya, gadis dari pembuangan sampah Bantar Gebang, bisa diundang berbicara di seminar-seminar di berbagai negara. Saya masih ingat, pertama kali berbicara di seminar di Amsterdam, kaki saya gemetar dan Bahasa Inggris saya terbata-bata,” kenang Resa.

“Saya tidak bilang saya hebat sekali, tapi saya bisa bilang, bahkan anak-anak Bantar Gebang bisa jadi apapun yang mereka mau kalau mereka percaya mereka bisa, dan mau berusaha meraih mimpi,” kata Resa. “Yang paling membahagiakan adalah melihat perkembangan mereka, beberapa sudah bisa luwes berbahasa Inggris. Selain itu, setiap saya ulang tahun, anak-anak senang karena bisa makan kue yang dihias krim. Nggak perlu kue mahal dari The Harvest atau Holland Bakery, kue dari pasar pun jadi. Asal ada krim-nya mereka senang sekali.”

Apa yang terjadi di Bantar Gebang memang sudah mendarah daging. Rasanya memang tidak adil melihat bagaimana sebuah wilayah yang tadinya merupakan sawah-sawah hijau di luar Jakarta, menjadi korban dari permasalahan sampah yang ada di Jakarta. Masalah yang ada di Bantar Gebang jelas merupakan masalahnya Jakarta juga, walaupun secara administratif letak pembuangan sampah ini masuk wilayah Bekasi.

Nasib anak-anak di sana harusnya menjadi perhatian pemerintah, baik daerah maupun pusat. Aktivis yang bekerja untuk membuat Bantar Gebang menjadi lebih baik sudah Sepantasnya didukung.

Untuk informasi lebih jauh tentang The Kingdom of BGBJ, teman-teman bisa kunjungi situs resimnya di www.bgbj.org. BGBJ juga menerima dana donasi, klik tautan ini dan ini untuk informasi lebih lanjut.

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya