Memahami Fenomena Sleep Paralysis yang Menakutkan

Posted at 2017-05-10 18:00:00 on TECH SAINS by Redaksi
Foto : Shutterstock

Matamu mulai terbuka setelah tadinya tidur nyenyak, tapi ada yang terasa aneh. Kamu mencoba menggosok mata, tapi tidak bisa mengangkat tangan. Dengan panik kamu, mencoba menarik napas dalam-dalam namun seperti tak mampu menghirup udara. Kamu tidak bisa duduk, dan bahkan mungkin mulai melihat bayangan hitam beringsut di sudut ruangan. Ini bukan mimpi buruk atau keadaan darurat medis, kamu mungkin hanya mengalami kasus kelumpuhan tidur, atau di dunia medis dikenal sebagai sleep paralysis.

Penulis sendiri pernah mengalami sleep paralysis—bahkan sering—beberapa tahun lalu. Saking sering mengalaminya, penulis sampai bisa mengenali saat-saat di mana fenomena tersebut bakal segera terjadi. Di setiap kejadian, “sosok-sosok mengerikan” selalu menampakkan diri, seperti sosok manusia bertubuh perak yang masuk ke kamar dan duduk di sebelah penulis, pocong yang melayang menembus jendela (dengan mata hitam dan kain kafan bernoda tanah merah yang terlihat jelas), sosok gelap dengan tangan-tangan hitam panjang yang meraih-raih, dan banyak lagi macamnya. Karena itulah, banyak orang mengaitkan kelumpuhan tidur dengan dunia gaib.

Apa itu kelumpuhan tidur?

Kelumpuhan tidur alias erep-erep adalah saat di mana otak kalian mengatakan kepada tubuh bahwa kalian masih dalam tahap pergerakan mata yang cepat—rapid eye movement (REM)—tidur, di mana anggota tubuh terasa lumpuh untuk sementara (untuk mencegah terjadinya mimpi secara fisik), denyut jantung dan tekanan darah meningkat, dan pernapasan menjadi lebih tidak teratur. Inilah tahapan dalam tidur di mana mimpi kalian yang paling nyata terjadi, yang bisa menjelaskan mengapa beberapa orang berhalusinasi selama fenomena erep-erep terjadi.

"Kelumpuhan tidur adalah peristiwa yang menakutkan bagi banyak orang," kata Steven Bender, DDS, direktur Center for Facial Pain and Sleep Medicine dan asisten profesor klinis di Texas A & M College of Dentistry. "Orang yang mengalami sleep paralysis memang sudah bangun, tapi mereka tidak memiliki kontrol terhadap tubuh mereka dan mungkin juga melihat hal-hal yang tidak nyata, karena otak mereka masih menganggap tubuh sedang tidur, dalam kondisi REM."

Kelumpuhan tidur berbeda dari mimpi buruk, terutama karena otak sudah bangun, meski otak belum “memberi tahu” tubuh bahwa kalian sudah bangun.

"Ketika orang memiliki mimpi buruk, mereka tidur, bermimpi dan kemudian terbangun," kata Bender. "Ketika mereka mengalami kelumpuhan tidur, mereka mungkin memiliki mimpi saat mereka sudah bangun."

Apa yang bisa terjadi saat kelumpuhan tidur?

Efek dari kelumpuhan tidur hanya bertahan beberapa saat—paling lama beberapa menit—dan biasanya hanya terjadi saat tertidur atau bangun tidur. Selain atonia otot, seseorang yang mengalami kelumpuhan tidur bisa memiliki pengalaman bermimpi dengan keterlibatan tambahan karena sadar dan sadar akan lingkungannya.

"Orang yang mengalami kelumpuhan tidur bisa memiliki halusinasi yang jelas karena mereka sedang bermimpi," kata Bender. "Orang-orang merasa seperti sedang melayang atau seseorang ada di kamar tidur mereka atau berbagai pengalaman aneh lainnya—seperti penculikan alien misalnya."

Tahap REM dalam terjadi dalam siklus sekitar 90 sampai 120 menit sepanjang malam, dan menyumbang hingga seperempat dari total waktu tidur pada orang dewasa—terutama menjelang akhir waktu tidur. Karena pernafasan yang cepat dan tidak teratur terjadi pada saat REM, orang yang mengalami kelumpuhan tidur mungkin sulit bernapas dengan benar, yang kemungkinan terasa seperti mati lemas.

Siapa yang berisiko mengalami kelumpuhan tidur?

Fenomena ini mungkin terjadi lebih sering daripada perkiraan kalian, karena tujuh sampai delapan persen populasi dunia telah mengalami kelumpuhan tidur. Hal ini lebih sering terjadi dengan kelompok ras Afrika-Amerika, pada usia dewasa muda. Mereka yang memiliki kebiasaan tidur yang buruk, seperti tidur di siang hari atau memainkan ponsel atau laptop di tempat tidur, berpotensi meningkatkan risiko terkena kelumpuhan tidur.

Orang yang memiliki narkolepsi, gangguan tidur kronis yang menyebabkan kantuk yang berlebihan, atau gangguan tidur lainnya memiliki risiko kelumpuhan tidur yang meningkat. Gangguan kesehatan mental lainnya, seperti depresi dan kecemasan, juga dikaitkan dengan kemungkinan kelumpuhan tidur yang lebih besar.

Apakah berbahaya?

Diagnosis untuk kelumpuhan tidur cukup sederhana dan biasanya bukan masalah bagi mereka yang tidak didiagnosis dengan kondisi tertentu, yang mempengaruhi tidur. Salah satu cara untuk menghindari fenomena tersebut adalah dengan memperbaiki kualitas tidur.

Kebiasaan tidur yang baik, termasuk tidur dan bangun pada waktu yang teratur, menghindari menonton televisi atau bermain laptop atau ponsel di tempat tidur, menghindari tidur di siang hari, dan menghindari stimulan lainnya menjelang tidur, bisa meminimalisir risiko terkena sleep paralysis.

Meski gangguan ini merupakan pengalaman yang aneh dan menakutkan, bukan sesuatu yang harus dicemaskan.

"Kelumpuhan tidur tidak berbahaya," kata Bender. "Jika gangguan tersebut terjadi makin sering, konsultasikan dengan dokter, agar mereka dapat membantu mengatasinya."


Sumber : Webmd.com

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya