Resep Rahasia Seorang Lelaki Sekarat Antarkan Putrinya Menjadi Multijutawan

Posted at 2017-05-11 19:00:00 on ARTIKEL by Redaksi
Photo credit : Kushikatsu Tanaka Co
Tagar

Ketika ayah Hiroe Tanaka meninggal, dia meninggalkan sesuatu yang mengubah putrinya: sebuah resep daging goreng yang ditusuk batang bambu seperti sate. Resep tersebut diciptakan sang ayah, karena putrinya sangat menyukai street food khas Jepang yang dikenal sebagai kushikatsu. Dia telah menghabiskan berjam-jam mencari cara untuk membuat resep secara tepat dan benar.

Memo berupa tulisan tangan, yang merinci cara memasak hidangan yang tampaknya sederhana itu, membantu menyelamatkan bisnis restoran dari kebangkrutan pada tahun 2008. Memo tersebut juga mengubah status Tanaka dari karyawan paruh waktu menjadi wakil presiden sebuah perusahaan yang dinamai menurut namanya, dan menjadikannya multijutawan. Juru bicara universitas yang pernah bekerja kantoran ini sekarang menjadi ahli strategi untuk Kushakasu Tanaka Co.

"Saya memberikan penghormatan kepada ayah saya setiap hari," kata Tanaka (46) dalam sebuah wawancara. "Itu semua terjadi karena resepnya."

Kushikatsu Tanaka Co. sendiri mulai membuka sahamnya untuk umum pada bulan September 2016 lalu.

Bisnis kuliner tersebut telah menempuh perjalanannya sejak membuka restoran pertaman di Tokyo pada bulan Desember 2008, ketika Tanaka dan Keiji Nuki, presiden perusahaan, menggunakan peralatan dapur bekas untuk menghemat biaya. Kushikatsu Tanaka sekarang memiliki 146 cabang di seluruh Jepang dan satu di Hawaii. Restoran ini berencana untuk membuka 40 cabang lagi tahun ini.

Laju ekspansi mereka adalah salah satu yang tercepat di dunia restoran cepat saji di Jepang. Kemajuan yang pesat tersebut—walaupun sebagian karena strategi perusahaan yang menganut membawa model bisnis yang digunakan oleh toko diskon 100 yen, yang menawarkan makanan dengan harga semurah mungkin—kata Tanaka, adalah berkat jasa ayahnya.

Kushikatsu, hidangan yang dibuat dengan cara menyusun daging dan sayuran pada tusuk sate, menggorengnya, dan kemudian mencelupkannya dalam saus, biasa ditemukan di jalanan Osaka, di sebelah barat pulau utama Jepang, tempat Tanaka tumbuh dewasa. Wilayah ini memang kurang dikenal, dan kushikatsu awalnya merupakan makanan cepat saji yang dibuat untuk buruh.

Pada kesempatan khusus ketika Tanaka masih kecil, setiap kali seseorang bertanya kepadanya makanan apa yang ingin dia makan, dia akan selalu mengatakan kushikatsu. Ayahnya, kata Tanaka, menyadari apa yang orang lain tidak sadari: bahwa memasak itu adalah sebuah betuk seni. Minyak, adonan dan saus semua harus tepat. Selama bertahun-tahun ia menggunakan waktu luang di sela-sela pekerjaannya sebagai agen real estate untuk menyempurnakan kushikatsu untuknya.

Sayangnya, saat Tanaka berusia 21, ayahnya meninggal dunia.

Ketika Tanaka melanjutkan hidupnya, melakukan pekerjaan administratif di biro periklanan setelah memutuskan untuk tidak menyelesaikan gelar sarjana sastra, dia mencoba meniru resep kushikatsu ayahnya namun tak berhasil. Pada akhir 1990-an, dia bekerja bersama Nuki, yang sedang menjalankan bar di Osaka saat itu, karena dia ingin fokus memasak. Salah satu masakan yang selalu dicoba dibuatnya adalah kushikatsu.

Ketika Nuki, yang juga berusia 46 tahun, pindak ke Tokyo beberapa tahun kemudian, Tanaka pindah juga ke kota tersebut untuk bekerja di restoran kelas atas yang dibukanya. Sekali lagi, Nuki membiarkannya mencoba memasak kushikatsu, meski dia tidak terlalu setuju dengan ide Tanaka menyajikan makanan jalanan di restoran.

Namun berapa kali pun Tanaka mencoba, dia tidak bisa melakukannya dengan benar, bahkan dengan bantuan profesional. Setelah beberapa tahun, dia mulai berpikir kushikatsu ayahnya akan mati bersamanya.

"Itu tidak sesederhana yang saya duga," katanya. "Saya mulai berpikir, mungkin saya sama sekali tidak bisa melakukannya."

Pada saat itu, keadaan semakin memburuk.

Ketika krisis keuangan global melanda di tahun 2008, restoran Nuki mengalami banyak kesulitan. Nuki pun memberi Tanaka berita buruk: dia harus menutup restoran, dan tiba waktunya untuk pulang.

Tanaka tidak mau berhenti. Nuki pun menawarkan untuk meminjamkan sejumlah uang agar Tanaka bisa memulai bisnis dengan namanya sendiri. Dia pun menerimanya, dan mulai berkemas untuk meninggalkan restoran.

Saat itulah dia menemukannya. Memo ayahnya ada dalam sekotak memo dan memorabilia milik ayahnya. Dia telah meninggalkan dia resep rahasia kushikatsu-nya.

Baik Tanaka maupun Nuki tidak menyangka akan menemukan resep itu, yang telah diperbaiki berulang kali. "Penemuannya tidak dramatis sama sekali," kenang Nuki. "Tidak seperti memo dengan label ‘success guaranteed’ tertulis di atasnya."

Namun mereka tetap mencobanya dan berhasil. "Memang, rasa kushikatsu-nya sangat mirip dengan yang biasa dimasak ayak saya," kata Tanaka.

Nuki, yang kemudian menjadi penggemar kushikatsu, memutuskan untuk melakukan satu usaha terakhir untuk menaklukkan kerasnya bisnis restoran di Tokyo.

Dia menemukan sebuah properti kecil di daerah perumahan yang tenang di luar pusat kota Tokyo, dengan biaya sewa lebih murah. Dia mengisi dapur dengan peralatan dari tempat asalnya, dan apa pun yang belum ada yang dia beli melalui situs lelang. "Banyak orang mengatakan kepada saya untuk tidak melakukannya, bahwa tempat itu tidak akan menarik orang karena tidak ada toko lain di dekatnya," katanya.

Namun nyatanya, Tanaka Kushikatsu menjadi viral.

Orang-orang sudah mengantre untuk membeli kushikatsu sejak jam 1 pagi. Nuki harus menyiapkan meja tambahan di luar. Jumlah sepeda yang diparkir di luar toko mulai mendatangkan keluhan dari tetangga. Penumpang di bus yang lewat jalan itu menatap dengan penuh rasa ingin tahu kepada antrian panjang setiap harinya.

Nuki dan Tanaka lalu membuka kedai kedua dan ketiga. Mereka semua sibuk dengan pelanggan. Seiring perjalanan waktu, mereka pun mulai mendapat beberapa saingan. Akhirnya, mereka memutuskan untuk membuka franchise.

Mengenai resepnya, Tanaka mengatakan hanya dirinya dan Nuki yang pernah melihatnya sejak mereka menemukannya, dan akan tetap seperti itu.

"Kushikatsu adalah hidup bagiku," kata Tanaka. "Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan tanpanya."


Sumber : Bloomberg.com

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya