7 Aturan Kuno di Jogja yang Masih Berlaku Hingga Kini

Posted at 2017-06-14 18:00:00 on ARTIKEL by Redaksi
Foto : Shutterstock

Yogyakarta memang dikenal sebagai kota pelajar, dengan mahasiswa datang dari berbagai daerah di seluruh Indonesia. Namun banyaknya pendatang tidak membuat masyarakat Jogja melupakan “aturan lama” yang sudah berlaku di kota tersebut sejak zaman dahulu. Bagi yang belum tahu, kota yang dikepalai oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X ini punya banyak aturan yang masih dianut dan dipercaya hingga kini.

Beberapa aturan tersebut memiliki cerita unik di baliknya, tak jarang memang berupa mitos dan berbau mistis. Apa saja ya? Buat kamu yang baru saja pindah ke Jogja, ini dia beberapa di antaranya.

Pantangan berpakaian warna hijau di Pantai Parangtritis

Pantai Parangtritis sudah lama menjadi ikon Kota Jogja. Walaupun kini popularitasnya dikalahkan oleh pantai-pantai indah di Kabupaten Gunung Kidul, Parangtritis tetap memegang peranan penting, di mana masyarakat Jogja menjalani upacara ritual di waktu-waktu tertentu. Selain itu, Parangtritis juga kerap dikaitkan dengan legenda Kanjeng Ratu Kidul.

Sebagaimana yang turun-temurun dipercaya oleh masyarakat Jogja, kalian tak boleh memakai pakaian hijau saat ke Parangtritis, karena warna itu merupakan favorit Kanjeng Ratu Kidul. Menurut mitos yang berkembang, beliau tidak suka ada orang lain yang memakai warna favoritnya, sehingga orang tersebut bisa kena bencana ditelan ombak. Mitos lain mengatakan, orang yang memakai pakaian warna hijau akan disukai Ratu Kidul, sehingga akan ditarik ke kerajaannya di tengah lautan.

Memang sih, kalau kamu perhatikan, Ratu Kidul pasti memakai pakaian dan selendang hijau di setiap lukisannya.

Sultan pantang melewati Plengkung Gading

Plengkung alias gapura adalah pintu yang menjadi bagian dari istana Keraton Ngayogyokarta Hadiningrat, yang pada zaman dahulu dijadikan gerbang utama kraton. Salah satu plengkung yang ada di istana Sultan adalah Plengkung Gading, yang berada di selatan Alun-alun Kidul. Plengkung Gading adalah pintu keluar satu-satunya yang selalu digunakan arak-arakan raja-raja yang baru meninggal, untuk kemudian dimakamkan di Makam Raja-raja Imogiri. Karena itulah, selama masih hidup, Sultan dilarang melewati Plengkung Gading.

Penduduk Gunung Kidul selalu menghadap selatan saat mengulek sambal

Tau kan sambel ulek? Yang rasanya mantap kalau dimakan sama ikan asin, ayam goreng, dan nasi panas? Nah kalo di Kabupaten Gunung Kidul, yang wilayahnya terletak tak jauh dari Kota Jogja, orang yang sedang mengulek sambal harus menghadap ke selatan. Menurut warga Gunung Kidul, aturan tersebut sudah diwariskan secara turun-temurun dan masih berlaku hingga saat ini. Alasannya adalah untuk menghormati Kanjeng Ratu Kidul.

Pantangan di Pasar Bubrah Gunung Merapi

Pasar Bubrah, selain menjadi favorit pendaki untuk bermalam karena jaraknya yang hanya satu kilometer dari Puncak Merapi, juga merupakan tempat yang terkenal angker dan sangat kental nuansa mistisnya. Para pendaki biasanya bermalam di “pasar hantu” untuk menunggu matahari terbit, namun banyak dari mereka yang malah mendengar suara-suara mistis di tengah malam.

Beberapa dari mereka mengaku mendengar suara gamelan di malam hari, tanpa ada satupun orang yang nampak bermain gamelan. Banyak juga yang melihat penampakan di tempat ini, atau suara-suara orang sedang bertransaksi jual beli yang kerap terdengar setiap malam Jumat. Oleh karena itu, para pendaki sudah paham kalo di Pasar Bubrah kelakuan dan perkataan harus dijaga. Masyarakat Merapi percaya, jika ada orang yang tak sopan dan menyinggung “penghuni” tempat tersebut, mereka tak akan segan menculik orang tersebut.

Pengantin dan orang sakit pantang melintasi perempatan Palbapang

Ada satu perempatan di Desa Palbapang, Kecamatan Bantul yang dikenal sebagai tempat mistis. Berbagai mitos dan aturan pun berlaku di sana, seperti pengantin yang pantang lewat perempatan tersebut dengan tangan kosong. Jika ingin lewat, pengantin harus melepaskan seekor ayam jago. Selain itu, orang sakit juga dikatakan tak boleh melintasinya, dan harus mencari jalan alternatif. Jika orang sakit melewati perempatan tersebut, mitos mengatakan orang itu akan mati.

Tidak boleh foto di depan gerbang UGM

Ada mitos yang melarang mahasiswa UGM untuk berfoto di gerbang yang bertuliskan Universitas Gadjah Mada. Aturan tersebut khusus untuk mahasiswa yang belum lulus. Konon kalau berfoto di sana, lulusnya akan lama dan terancam jadi mahasiswa abadi. Ini baru serem banget.

Pasangan yang belum menikah jangan datang ke Prambanan

Konon pasangan yang datang ke Candi Prambanan maka hubungan cintanya akan putus, kecuali mereka yang sudah menikah. Hal ini didasari oleh cerita rakyat yang menjadi latar belakang candi Hindu tersebut, tentang Bandung Bondowoso yang gagal menikahi gadis cantik Roro Jonggrang.

Nah, itu dia berbagai mitos dan aturan di Kota Jogja yang penting untuk diketahui. Tenang saja, lama-kelamaan kalian akan hapal dan terbiasa kok.


Sumber : Kotajogja.com

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya