Tips Membuat CV Agar Dipanggil Wawancara di Perusahaan Silicon Valley

Posted at 2017-08-07 18:00:00 on PENGEMBANGAN DIRI by Yudi Kobo
Kawasan Silicon Valley. Photo vi Shutterstock

Buat kalian yang kuliah di jurusan teknik informatika alias IT, bisa magang dan bekerja di Silicon Valley mungkin adalah impian yang jadi kenyataan. Nah, supaya kalian bisa benar-benar mewujudkannya, selain menjaga nilai tetap bagus, ada baiknya mempertimbangkan untuk mengambil pekerjaan magang atau freelance, supaya skill dan pengalaman makin bertambah.

Selain itu, ada beberapa cara yang bisa dilakukan mahasiswa Indonesia agar bisa magang dan bekerja di Silicon Valley dari mereka yang udah duluan pergi ke sana.

Veni Johanna, konsultan asal Indonesia yang sudah tinggal di Silicon Valley sejak 2010, punya banyak tips—dia punya pengalaman jadi mentor bagi mahasiswa S1 Indonesia yang ingin melakukan internship di Silicon Valley.

Kampus Apple di Cupertino (Photo via Shutterstock - Uladzik Kryhin)

Menurut dia, kalian harus mulai dengan usaha supaya diundang interview oleh salah satu perusahaan di sana. Caranya? Pertama adalah menyiapkan resume yang tepat, dan juga punya strategi melamar kerja yang tepat. Berikut beberapa tips dari Veni:

Tips Membuat CV Supaya Dipanggil Wawancara di Silicon Valley

Buat CV/resume dalam satu halaman saja

Menurut Veni, resume harus satu halaman, dan ditulis dengan ringkas. Satu halaman tersebut harus memuat informasi mengenai diri kalian, pengalaman, serta skill yang dimiliki.

Nggak perlu mencantumkan gender, tanggal lahir, dan alamat

Tidak seperti gaya resume/CV khas Indonesia, di Amerika Serikat, perusahaan tidak memerlukan semua informasi itu. Yang mereka perlu tahu adalah seluk beluk mengenai bidang yang kalian tekuni, seberapa jauh pengetahuan kalian di bidang itu, dan apakah kalian punya pengalaman terkait bidang tersebut, dan berapa lama.

Berorientasi pada hasil


Kantor Google di Mountain View (Photo via Shutterstock-Benny Marty)

Daftar kegiatan, organisasi, atau apapun yang kalian cantumkan harus berorientasi pada hasil. Contohnya kalau kalian punya pengalaman mendevelop situs web, masukkan hasilnya. Kalau punya pengalaman melatih anak-anak SMA, masukkan hasilnya. Kalau punya pengalaman membantu dosen dalam proyeknya, masukan hasilnya.

Jelaskan tantangan teknis yang kalian hadapi dalam proyek/pekerjaan yang pernah dilakukan

Daftar proyek kalian seharusnya memberi kisi-kisi atau pandangan mengenai tantangan teknis yang kaliah hadapi. Orang yang membaca CV kalian juga harus bisa mengerti apa yang kalian tulis, jadi jelaskan hal-hal teknis dalam bahasa yang mudah dimengerti.

Masukkan bagian yang paling mengesankan di awal

Masukkan hal-hal yang paling mengesankan terlebih dahulu di CV/resume kalian. Misalnya, kalau kamu adalah seorang programmer kompetitif yang sukses, letakkan “Penghargaan dan Pencapaian” di bagian atas. Sama halnya jika kalian pernah memenangkan hackathons—gelaran di mana sejumlah besar ahli IT untuk terlibat dalam pemrograman komputer kolaboratif, atau menggarap proyek yang mengesankan.

Resume kalian harus menonjol

Artinya, dalam 30 detik hingga dua menit seorang perekrut melihat resume kalian, perlu ada sesuatu yang membuat dia berpikir bahwa kalian punya potensi. Jika kalian merasa kurang pengalaman, cobalah memperkaya skill dan kemampuan untuk menambah “wow factor” di CV kalian: bersaing dalam kompetisi pemrograman, melakukan hackathons, menggarap proyek yang menarik (freelance, mungkin), magang di perusahaan bagus di Indonesia, dan sebagainya.

Sekarang kalian sudah tahu kan rahasianya? Sekarang waktunya untuk mulai menyusun resume!

Setelah ini, kalian mungkin tertarik juga untuk mengetahui tips dari Veni ketika akan melamar pekerjaan di Silicon Valley. Stay tuned!


Sumber : Quora.com

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya