Apa Itu Perang Proxy, dan Seberapa Bahaya-kah Dibandingkan Perang Senjata?

Posted at 2017-10-02 09:00:00 on ARTIKEL by Redaksi
Sebuah poster yang menggambarkan Perang Dingin (Kredit AlphaHistory)

Perang proxy aliasn proxy war adalah terjadinya konflik yang disulut oleh lawan yang tidak saling bertarung secara langsung. Sebagai gantinya, mereka menggunakan pihak ketiga untuk melakukan pertarungan tersebut untuk mereka.

Kekuatan yang terlibat dalam proxy war biasanya adalah negara-negara yang memiliki ideologi dan kepentingan yang saling bertentangan satu sama lain. Namun, perang skala besar langsung di antara mereka akan menyebabkan kerusakan besar dan tentunya menimbulkan banyak korban jiwa. Oleh karena itu, mereka lebih suka melakukan perang proxy di negara-negara berkembang untuk menghindari kerugian dan mencapai beberapa kepentingan tertentu pada saat bersamaan.

Pihak ketiga bisa jadi berupa pemerintah negara atau pemerintah daerah yang dibentuk atau didukung oleh kekuatan yang berlawanan, atau angkatan bersenjata, tentara bayaran dan kelompok teroris yang bisa menyerang lawan tanpa menyebabkan perang skala penuh.

Berikut beberapa contoh proxy war yang terkenal di dunia.

Perang Dingin

Meskipun perang proxy yang tercatat pertama terjadi pada awal tahun 1529, hal tersebut tidak umum dilakukan sampai Perang Dingin dimulai, karena adanya perbedaan ideologi dan politik antara dua pemenang Perang Dunia II. Selama Perang Dingin, kedua negara adidaya bersenjata nuklir—Amerika Serikat (AS) dan Uni Soviet—tidak ingin berhadapan secara langsung dalam serangan militer, karena hal itu akan menyebabkan perang nuklir yang menghancurkan. Sebaliknya, baik AS maupun khususnya Uni Soviet berusaha untuk menyebarkan lingkup pengaruh mereka di seluruh dunia, yang menyebabkan banyak perang proxy seperti yang terjadi di Yunani, Korea, Afghanistan dan khususnya Vietnam.

Perang Vietnam

Perang Vietnam adalah perang proxy yang khas selama Perang Dingin di bawah pengaruh Uni Soviet dan China.

Keterlibatan Amerika di Vietnam dimulai dengan cara yang sama seperti kebanyakan perang proxy, dengan Presiden Amerika Serikat Harry Truman dan kemudian Dwight Eisenhower mengirimkan bantuan militer dan ekonomi ke Perancis dan Vietnam Selatan, untuk mendukung mereka dalam perang melawan komunis di Vietnam Utara.

Lebih banyak bantuan dan penasihat militer dialirkan ke Vietnam Selatan di bawah Presiden John F. Kennedy, yang menganggap Vietnam adalah tempat untuk mengembalikan kredibilitas Amerika. Akhirnya pasukan AS dikirim ke Vietnam di bawah Presiden Lyndon B. Johnson, yang meningkatkan perang lebih lanjut ke Vietnam Utara dengan pemboman udara besar-besaran. Namun, kampanye pengeboman ternyata tidak efektif karena beberapa pembatasan yang diberlakukan di AS dan sekutu-sekutunya serta bantuan dari Uni Soviet dan China untuk Vietnam Utara.

Meskipun Uni Soviet dan China secara aktif memasok Vietnam Utara dengan bantuan keuangan, pelatihan militer, materiil dan logistik, tidak seperti Amerika Serikat dan sekutunya, mereka memperjuangkan perang melalui kuasanya dan tidak langsung ikut terlibat dalam konflik bersenjata.

Untuk pertama kalinya dalam Perang Dingin, opini publik telah mempengaruhi kebijakan perang proxy. Perang Vietnam telah menjadi begitu tidak populer di AS, membuat Richard Nixon berhasil terpilih dengan janji bahwa dia bisa mengakhiri perang di Vietnam dengan "terhormat.”

Dia lalu menerapkan apa yang disebut "Vietnamization" yang berbeda dengan kebijakan "Americanization" di bawah Presiden Johnson. Rencana "perdamaian dengan kehormatan" diakhiri dengan penandatanganan Persetujuan Perdamaian Paris pada tahun 1973. AS sekarang dapat keluar dari medan perang yang mahal di Vietnam, namun sekutunya Vietnam Selatan akhirnya jatuh ke tangan komunis Utara pada tahun 1975.

Benarkah Proxy War Sedang Terjadi di Indonesia?

Beberapa tokoh menganggap Indonesia tak luput dari bahaya proxy war. Salah satunya adalah mantan wakil presiden ke-6 Republik Indonesia Try Sutrisno, yang berbicara pada Jumat (22/9) di gelaran Silaturahmi Purnawirawan TNI. Dia meramalkan, Indonesia akan jatuh karena proxy war kalau tak waspada. Menurut laki-laki yang pernah menjadi Panglima ABRI periode 1988-1993 itu, proxy war akan menghancurkan Indonesia lewat ideologi politik, ekonomi, budaya.

“Sekarang sudah terjadi, kalau tidak sadar hancur kita,” kata Try Sutrisno.

Sejak Maret 2014, Jenderal TNI Gatot Nurmantyo memopulerkan istilah proxy war sebagai ancaman bangsa. Saat itu, Gatot masih menjabat sebagai Panglima Kostrad. Dia menyampaikan menyampaikan kuliah umum yang membahas proxy war di Universitas Indonesia (UI), 11 Maret 2014.

Dalam kuliah tersebut, Gatot menjabarkan mengenai sifat dan karakteristik perang proxy, yang telah bergeser dengan adanya perkembangan teknologi.

Menurut Gatot, pada tahun 2043, energi fosil akan habis dan digantikan dengan bio-energi. Sayangnya, populasi penduduk dunia tumbuh pesat dan tidak diimbangi dengan ketersediaan pangan, air bersih dan energi yang cukup. Dia menekankan, krisis energi akan memunculkan konflik-konflik baru: perang asimetris, perang hibrida, dan perang proxy. Bagi Gatot, Indonesia berpotensi dijadikan sasaran perebutan sumber daya alam karena kekayaan potensi bio-energinya.

Gatot juga menyampaikan hal serupa saat memberikan kuliah umum di kampus Universitas Brawijaya (UB), 26 Maret 2014 dan Insitut Teknologi Bandung (ITB), 2 Mei 2014.


Sumber : TirtoId, Liputan6, TheVietnamWar

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya