Panduan ‘Bertahan Hidup’ dalam Transisi dari Masa SMA ke Perguruan Tinggi

Posted at 2017-10-09 11:00:00 on SEPUTAR KAMPUS by Lucia Yuriko
Foto : Shutterstock

Setelah segala upaya menentukan jurusan, memilih perguruan tinggi, menghabiskan waktu memasukkan aplikasi ke universitas pilihan, belajar hingga larut malam untuk persiapan ujian, hingga melalui ujian saringan masuk universitas yang berat, kalian mungkin berpikir begitu masuk universitas dan menjadi mahasiswa, semua stres itu akan hilang.

Tapi benar begitu nggak sih?

Peralihan dari kehidupan SMA ke perguruan tinggi seringkali malah membuat stres. Tapi bukan berarti kalian harus terus-terusan stres. Malah seharusnya, kalian bisa menjalani kehidupan sebagai mahasiswa dengan penuh semangat, bahagia, dan sehat. Kehidupan di kampus memang seharusnya menyenangkan koq! Tapi kalau kalian sedang galau dengan semua perubahan ini, jangan khawatir, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mengatasinya.

Mulai dari awal…

Kalian sudah memilih kampus tempat kalian kuliah saat ini. Semua kebutuhan sebagai mahasiswa baru, mulai dari kosan, perlengkapan kuliah, sampai urusan administrasi sudah beres. Sekarang tinggal menjalaninya saja, dan seharusnya kalian siap menjalani transisi dari siswa SMA menjadi mahasiswa di perguruan tinggi. Lalu sekarang apa yang perlu dilakukan?

Mungkin kalian sudah menjalani ospek, yang sesungguhnya bagus untuk memuluskan masa transisi tersebut. Kalian bisa kenal dengan lingkungan kampus, kenal dosen dan senior, hingga teman-teman satu fakultas/jurusan. Bagus. Ini adalah langkah awal yang bisa di ambil untuk menempuh anak tangga transisi dari siswa SMA menjadi mahasiswa.

Setelah ospek berakhir, sempatkan waktu untuk berkumpul lagi bersama teman-teman yang kenal pada masa ospek, atau sekedar ngobrol dengan senior. Kebanyakan mahasiswa senior akan senang kalau ditanyai soal seluk-beluk kampus, atau kebiasaan-kebiasaan yang berlaku di jurusan, atau tentang sifat dan karakter dosen tertentu.

Kalian sekarang adalah mahasiswa

Akhirnya terjadi juga: kalian adalah mahasiswa; orang dewasa yang siap menapaki kehidupan. Percaya atau tidak, kebanyakan orang akan menganggap kalian sebagai sesama orang dewasa sekarang. Tapi yang menakutkan dengan label "dewasa" ini menjadi tanggung jawab.

Kalian juga punya kebebasan yang belum pernah terjadi sebelumnya; (untuk anak kos) hidup tanpa orang tua, tidak ada saudara kandung yang menemani, tidak ada guru yang mengayomi. Siapa yang akan memberitahu kalian kapan harus bangun? Kapan pergi ke kampus? Kapan tugas kalian harus dikerjakan? Ya, tanggung jawab baru ini bisa menjadi bagian transisi yang menegangkan, tapi jutaan mahasiswa lainnya telah berkali-kali membuktikan bahwa mereka dapat bertahan. Kalian pasti mampu!

Manajemen waktu adalah teman kalian

Prinsipnya cukup sederhana: Kalau kalian menjalankan manajemen waktu dengan baik, kalian akan sukses sebagai mahasiswa. Jika tidak, kalian bisa menebak apa yang akan terjadi. Jadi apa arti "manajemen waktu"? Pada dasarnya, manajemen waktu adalah mendaftar semua tugas, pekerjaan, jadwal, dan tanggung jawab, dan kemudian merencanakan waktu untuk memenuhi semua itu.

Aturan praktis: Untuk setiap jam di kelas, kalian harus merencanakan tiga jam belajar di luar kelas. Di universitas memang tidak ada ulangan seperti waktu SMA. Ujian perguruan tinggi mungkin hanya terjadi dua kali dalam satu semester, yang berarti banyak hal. Kalau kalian nggak mengikuti pelajaran dan belajar mengatur waktu, ujian tersebut bisa menjadi masalah. Nggak mau kan?

Kalian bisa membaca buku ‘The 7 Habits’ untuk mengetahui tips dan metode manajemen waktu yang efektif dan menyenangkan. Apalagi di buku itu, tugas dan pekerjaan nggak selalu tentang belajar dan bekerja, tapi juga bersantai dan refreshing, juga bergaul dengan teman.

Lebih banyak uang, lebih banyak masalah

Tanggung jawab keuangan adalah konsep yang cukup baru bagi sebagian besar siswa yang beralih dari sekolah menengah ke perguruan tinggi, terutama ketika harus membayar uang kuliah dan kosan. Selain itu, masih ada masalah pengaturan keuangan sehari-hari, agar uang yang diberi orang tua cukup untuk seminggu/sebulan.

Bagian dari tanggung jawab baru sebagai mahasiswa adalah “mandiri” secara finansial dan tidak menyalahgunakan beasiswa, uang dari orang tua, atau dana lain yang mungkin kalian terima. Mahasiswa terkadang merasa punya kebutuhan untuk mengeluarkan lebih banyak uang daripada yang diperlukan sehingga mereka dapat menggunakannya untuk biaya pribadi di perguruan tinggi. Ini bukan ide bagus, karena setelah lulus kemungkinan kalian harus benar-benar mandiri secara finansial. Jika kalian ingin membeli sesuatu atau pergi liburan, tidak apa-apa, tapi jangan berlebihan. Ingatlah untuk berpikir jangka panjang. Bertanggung jawab secara finansial sekarang sehingga kalian akan sudah terbiasa mandiri setelah lulus.

Berbagai jenis "tanggung jawab sosial"

Perguruan tinggi sangat bersifat sosial. SMA juga mungkin bersifat sosial, tapi di perguruan tinggi, sesama mahasiswa bisa menjadi bagian penting dan berpengaruh dalam hidup kalian. Mereka akan membantu kalian dalam kelompok belajar atau dalam kegiatan UKM. Mereka akan menjadi sistem pendukung kalian saat keluarga dan kampung halaman kalian berada ratusan atau ribuan kilometer jauhnya. Mereka bahkan akan memasuki dunia kerja dengan kalian sebagai teman sebaya, dan jaringan profesional kalian selama bertahun-tahun yang akan datang.

Kalian perlu menempatkan diri di luar sana dan menjadi “makhluk sosial” untuk menuai keuntungan dari sekitar diri kalian dengan mahasiswa, profesor, dan staf lainnya yang mendukung. Jangan takut untuk mengenalkan diri kalian pada fakultas, staf, atau sesama mahasiswa, terutama pada awal kuliah. Mengambil keuntungan dari komunitas perguruan tinggi adalah tanggung jawab baru kalian. Ini tidak seperti SMA, di mana hubungan terjalin oleh fakta bahwa kalian berada di kelas yang sama dengan orang yang sama setiap hari selama tiga tahun. Di perguruan tinggi, kalian mungkin bertemu seseorang baru setiap hari selama empat tahun!

Kalian mungkin nggak bisa ingat nama semua orang, tapi sedikit usaha untuk menjalin pertemanan akan memberi banyak keuntungan, untuk kedua belah pihak. Kalau kalian anak baru, kalian bisa mulai bergaul dengan teman seangkatan dan senior. Kalau kalian mahasuswa senior, kalian bisa bersikap ramah kepada para junior dan membantu mereka merasa nyaman di lingkungan barunya.

Akan ada sangat banyak jenis orang yang ditemui. Kalian akan bertemu orang-orang dari tempat baru, latar belakang baru, kelompok etnis baru, dan agama baru. Kalian akan bertemu orang-orang yang tak menyukai kalian, dan banyak orang yang menyukai kalian. Ingat, setiap orang baru adalah kesempatan baru.

“Don’t sweat the small stuff”

Don’t sweat the small stuff—“jangan pusingkan hal kecil”—demikian kata Dr. Richard Carlson dalam bukunya yang terkenal. Ingat kata-kata itu. Hidup kalian akan terisi dengan begitu banyak hal mengagumkan begitu kalian meninggalkan sekolah menengah atas. Kalian tidak akan mengingat hal-hal kecil yang mengganggu dan membuat stres. Pengalaman kuliah akan terisi dengan beberapa saat terbaik dalam hidup, kenangan yang akan kalian ingat untuk waktu yang lama. Ingatlah tips ini, dan transisi kalian akan sukses! (Mungkin kalian juga bisa mempertimbangkan untuk membaca buku tersebut. Isinya sangat bagus untuk membantu kalian “memilih pertempuran” dan mengurangi stres)


Sumber : collegexpress

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya