Kebohongan Besar Dwi Hartanto Terungkap: Prestasi Akademis Berarti Segalanya?

Posted at 2017-10-11 19:00:00 on ARTIKEL by Redaksi
Foto: Ristekdikti

Pemuda kebanggaan bangsa Indonesia yang didaulat sebagai ‘pengganti B.J. Habibie’ dinilai telah mengecewakan dan mempermalukan ratusan juta penduduk Indonesia, dan menodai profesi ilmuwan. Semua prestasi yang dibanggakan di mana-mana itu ternyata hanyalah sebuah kebohongan besar.

Disebut memiliki segudang prestasi yang berkaitan dengan teknik kedirgantaraan (aerospace engineering), nama Dwi pun harum setelah diwawancara oleh jurnalis terkemuka seperti Najwa Shihab, dan muncul dalam berbagai pemberitaan media.

Walaupun telah melakukan kebohongan yang berlarut-larut, masih ada satu hal yang bisa diacungi jempol tentang Dwi Hartanto. Dia akhirnya mengakui semua kebohongannya, dan mempublikasikan pengakuannya, walaupun sedikit terpaksa.

Pemuda berusia 35 tahun itu menulis klarifikasi sepanjang lima halaman, yang dimuat pada situs ppidelft.net, menyatakan dirinya bersalah karena memberi informasi tak benar melalui media sosial dan media massa. Seperti kata Dwi, informasi yang dia berikan tak akurat, dilebih-lebihkan, dan tidak benar. Dia juga bersalah karena tak melakukan klarifikasi setelah informasi salah tersebut meluas di berbagai media.

Kebohongan pertama yang dia ungkapkan adalah mengenai latar belakang akademiknya. Dwi Hartanto menerima gelar sarjana dari Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta, Fakultas Teknologi Industri, Program Teknik Informatika, lulus pada 15 November 2005. Bukan dari Tokyo Institute of Technology Jepang, seperti yang diberitakan.

Sebelumnya, Dwi mengaku sebagai Asisten Profesor post-doctoral di Technische Universiteit (TU) Delft dalam bidang kedirgantaraan. Menurut pernyataannya, dia meneliti teknologi satelit dan pengembangan roket. Namun kenyataannya, Dwi adalah mahasiswa doktoral (PhD) di TU Delft. Penelitiannya adalah tentang intelligent systems, khususnya virtual reality, yang menjadi disertasinya.

Dalam klarifikasinya, Dwi juga mengaku tak pernah merancang Satellite Launch Vehicle atau roket yang disebut TARAV7s (The Apogee Ranger versi 7s).

“Yang benar adalah bahwa saya pernah menjadi anggota dari sebuah tim beranggotakan mahasiswa yang merancang salah satu subsistem embedded flight computer untuk roket Cansat V7s milik DARE (Delf Aerospace Rocker Engineering), yang merupakan bagian dari kegiatan roket mahasiswa di TU Delft),” kata Dwi melalui pernyataan tertulis, Minggu (8/10).

Proyek itu tak didanai Kementerian Pertahanan Belanda, Pusat Kedirgantaraan dan Antariksa Belanda (NLR), Airbus Defence atau Dutch Space, namun hanya proyek roket amatir mahasiswa. NLR dan lembaga lain berperan sebagai sponsor terkait dana riset dan bimbingan. Proyek roket tersebut pernah dibahas di tayangan Mata Najwa. Dwi mengaku roket strategisnya digunakan pada Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) dan dia berperan sebagai technical director.

“Peranan teknis saya saat itu adalah pada pengembangan flight control module dari roket tersebut. Dengan demikian bahwa saya satu-satunya orang non-Eropa yang masuk dalam ring 1 teknologi ESA (European Space Agency) adalah tidak benar,” kata Dwi dalam pernyataannya.

Kebohongan lain ketika Dwi mengaku memenangkan lomba riset teknologi antar lembaga penerbangan dan antariksa dari seluruh dunia di Cologne, Jerman. Jika memang dia benar menang, dia sudah mengalahkan para ilmuwan dari NASA (Amerika), ESA (Eropa), dan JAXA (Jepang) dan lembaga terkenal lainnya. Dia sempat bilang dia juara dalam riset Spacecraft Technology dengan riset berjudul “Lethal Weapon in the Sky.” Namun kenyataannya, dia tak pernah mengikuti lomba. Dwi meng-edit template cek hadiah, menambahkan namanya dan jumlah hadiah sebesar 15.000 euro. Lalu dia berfoto dengan cek itu dan memasangnya di medsos.

Foto itu ternyata diambil di gedung Space Businees Inovation Center di Noordjijk, Belanda, saat Dwi mengikuti hackathon Space Apps Challenge. Namun dalam lomba tersebut, ia dan tim tak menjadi juara.

Mengenai pertemuan dengan mantan presiden Indonesia B.J. Habibie, Dwi mengaku bukan Habibie yang meminta bertemu dengannya. Namun dia-lah yang meminta KBRI di Den Haag untuk dipertemukan dengan beliau.

“Tidak benar bahwa program master (S2) saya dibiayai oleh pemerintah Belanda. Kuliah S2 saya di TU Delft dibiayai oleh beasiswa yang dikeluarkan oleh Depkominfo. Tidak benar bahwa Belanda menawarkan saya untuk mengganti kewarganegaraan,” kata Dwi.

Dwi memang membenarkan dia diundang ke acara Visiting World Class Professor di Jakarta. Namun semua yang dia sebutkan sebagai alasan dia diundang, ternyata tidak benar.

Pada 3 Februari 2017, Dwi memposting tentang kesibukannya mengerjakan proyek satelit pesanan Airbus (AirSat-ABX). 24 Februari ia juga mengaku telah diwawancara oleh TV Nasional Belanda NOS terkait Spacecraft technology. Selanjutnya, 15 Juni 2017 ia mengunggah kartu identitas sebagai Direktur Teknik ESA.

Semua kebohongan Dwi mayoritas disebarkan melalui media sosial, salah satunya Facebook. Karena itu, Dwi akhirnya menutup akunnya.

Kenyataannya, banyak teman-teman Dwi yang sudah mengetahui kebohongan itu sejak lama. Mereka mendesaknya untuk berhenti melakukannya, namun tak diindahkan. Akhirnya setelah sekian lama menahan diri, teman-teman Dwi di Delft menulis laporan 33 halaman, yang digunakan Deden Rukmana, Professor and Coordinator of Urban Studies and Planning di Savannah State University, untuk menulis surat terbuka berjudul “Surat Terbuka Tentang Ilmuwan Indonesia” yang diperoleh Kompas.com.

Menurut Dede, kebohongan Dwi menodai nama baik ilmuwan. Ilmuwan haruslah memegang kode etik dan integritas tinggi, demi perkembangan ilmu pengetahuan.

“Kalau saja kebohongan ini berlanjut dan Dwi Hartanto diberi pekerjaan di bidang Aerospace Engineering yang bukan merupakan keahliannya, tentunya akan sangat membahayakan keselamatan jiwa banyak orang,” kata Dede kepada Kompas.com.

Saat ini Dwi sedang menjalani serangkaian sidang kode etik di TU Delft sejak 25 September 2017, dan masih menunggu keputusan dari universitas tersebut.

Pada pernyataan bermeterai 6.000 itu, Dwi berjanji tidak akan mengulangi kebohongannya dan tetap berkarya di bidang kompetensinya yang sebenarnya, yakni sistem komputasi. Dia berjanji akan menolak undangan berbicara di luar kompetensinya.

“Perbuatan tidak terpuji/kekhilafan saya, seperti yang tertulis di dokumen ini adalah murni perbuatan saya secara individu yang tidak menggambarkan perilaku pelajar maupun alumni Indonesia di TU Delft secara umum,” katanya, seperti dikutip dari CNN Indonesia.

Menurut pendapat pengguna Twitter @vinedict, kebohongan yang berlarut tersebut salah satunya dipicu oleh kesalahan fatal wartawan yg menulis berita tanpa mencari fakta-fakta dan referensi tambahan.

Sebagai akibat dari perbuatan Dwi, Kedutaan Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Belanda akhirnya resmi mencabut penghargaan yang dianugerahkan kepadanya.

 

Berita sebelumnya  :  http://kampuskita.upnyk.ac.id/blog/692/calon-penerus-habibie-dwi-hartanto-ukir-prestasi-gemilang-di-belanda


Sumber : Kompas.com CNN Indonesia

KOMENTAR
Log In untuk menambahkan komentar
Belum ada komentar
Baca Lainnya